Tech

BI Batasi Pembelian Dolar AS Hingga USD 25.000 per Bulan, Rupiah Sentuh Rp 17.425

Gubernur Perry Warjiyo membeberkan tujuh strategi kepada Presiden Prabowo untuk menahan tekanan rupiah yang terus melemah ke rekor terendah.

4 menit
BI Batasi Pembelian Dolar AS Hingga USD 25.000 per Bulan, Rupiah Sentuh Rp 17.425
Gubernur Perry Warjiyo membeberkan tujuh strategi kepada Presiden Prabowo untuk menahan tekanan rupiah yang terus melemaCredit · KONTAN

Fakta-fakta

  • Rupiah melemah ke Rp 17.425 per dolar AS berdasarkan kurs Jisdor BI pada 5 Mei 2026.
  • BI menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari USD 100.000 menjadi USD 25.000 per orang per bulan.
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 mencapai 5,61% year-on-year, naik dari 5,39% kuartal IV-2025.
  • Investor asing mencatat net sell Rp 518,39 miliar di pasar saham pada 5 Mei, dengan total net sell year-to-date Rp 9,38 triliun.
  • BI telah melakukan pembelian di pasar sekunder senilai Rp 123,1 triliun secara year-to-date.
  • Cadangan devisa Indonesia dinilai 'lebih dari cukup' oleh Gubernur BI Perry Warjiyo.
  • IHSG menguat 1,22% ke 7.057,11 pada 5 Mei 2026.
  • Tekanan eksternal meliputi kenaikan harga minyak global, suku bunga AS tinggi, dan imbal hasil US Treasury 10 tahun di 4,47%.

Rupiah Tembus Rekor Terendah di Tengah Penguatan IHSG

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencetak rekor terburuk pada Selasa, 5 Mei 2026. Berdasarkan data kurs Jisdor Bank Indonesia, rupiah melemah ke Rp 17.425 per dolar AS, turun 30 poin atau 0,17 persen dari hari sebelumnya. Pelemahan ini terjadi meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,22 persen ke level 7.057,11 pada hari yang sama. Tekanan terhadap rupiah berlangsung di tengah arus keluar modal asing yang signifikan. Investor asing mencatat penjualan bersih Rp 518,39 miliar di pasar saham pada Selasa, memperpanjang tren net sell year-to-date yang telah mencapai Rp 9,38 triliun. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.

Gubernur BI Laporkan Tujuh Strategi ke Presiden Prabowo

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melaporkan kondisi rupiah yang semakin tertekan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Jakarta, Selasa. Dalam pertemuan tersebut, Perry memaparkan tujuh langkah strategis yang telah mendapat arahan dan restu presiden untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah pertama adalah intervensi di pasar valas, baik domestik maupun luar negeri, melalui instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan offshore NDF di pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York. "Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup," ujar Perry.

Pembatasan Ketat Pembelian Dolar Tanpa Underlying

Salah satu langkah yang paling menonjol adalah pengetatan pembelian valuta asing tanpa underlying. Batas pembelian dolar yang sebelumnya USD 100.000 per orang per bulan diturunkan menjadi USD 50.000, dan akan kembali ditekan menjadi USD 25.000. "Sehingga pembelian dolar di atas USD 25.000 itu harus pakai underlying," kata Perry. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi permintaan spekulatif terhadap dolar AS yang turut menekan rupiah. Langkah lain termasuk memperkuat aliran masuk modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham. BI juga melanjutkan pembelian di pasar sekunder yang telah mencapai Rp 123,1 triliun secara year-to-date.

Fundamental Ekonomi vs Tekanan Jangka Pendek

Perry menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan menjadi dasar optimisme terhadap pergerakan rupiah ke depan. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, meningkat dari 5,39 persen pada kuartal IV-2025. Inflasi rendah, pertumbuhan kredit tinggi, dan cadangan devisa yang kuat turut disebut sebagai indikator positif. "Ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," katanya. Namun, ia mengakui adanya tekanan jangka pendek yang berasal dari faktor eksternal, seperti kenaikan harga minyak global, tingginya suku bunga Amerika Serikat dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun di level 4,47 persen, serta penguatan dolar AS secara umum.

Faktor Musiman Tambah Beban Permintaan Dolar

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh faktor musiman. Perry menjelaskan bahwa periode April hingga Juni merupakan masa tingginya permintaan dolar untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, dan kebutuhan jemaah haji. "Memang secara musiman April, Mei, Juni ini permintaan terhadap dolar tinggi," ujarnya. Kombinasi tekanan eksternal dan musiman ini membuat rupiah terus terdepresiasi meskipun data ekonomi domestik menunjukkan perbaikan. BI berupaya menjaga likuiditas perbankan tetap longgar, tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1 persen, sebagai bagian dari strategi keempat.

Analis Sarankan Investor Tetap Selektif

Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, analis menyarankan investor untuk tetap selektif dan disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Dinamika pasar yang fluktuatif membutuhkan kehati-hatian, terutama dengan ketidakpastian arah kebijakan moneter global dan tekanan nilai tukar. Meskipun IHSG menguat pada Selasa, arus keluar modal asing yang persisten menunjukkan bahwa sentimen risiko masih rapuh. Investor disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan BI dan data ekonomi domestik sebagai acuan pengambilan keputusan.

Prospek Rupiah: Stabilisasi Bertahap atau Tekanan Berlanjut?

Bank Indonesia optimistis bahwa langkah-langkah yang telah diambil akan mampu menstabilkan rupiah dalam jangka menengah. Perry menyatakan bahwa nilai tukar saat ini sudah undervalued dan ke depan diyakini akan stabil dan menguat. Namun, efektivitas kebijakan pembatasan pembelian dolar dan intervensi pasar masih harus diuji oleh dinamika global. Dengan cadangan devisa yang memadai dan fundamental ekonomi yang solid, BI memiliki ruang untuk terus melakukan intervensi. Namun, tekanan dari suku bunga AS yang tinggi dan permintaan musiman diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan. Pasar menanti langkah konkret selanjutnya dari otoritas moneter.

Ringkasan

  • Rupiah melemah ke Rp 17.425 per dolar AS, rekor terendah baru, pada 5 Mei 2026.
  • BI menurunkan batas pembelian dolar tanpa underlying dari USD 100.000 menjadi USD 25.000 per bulan.
  • Tujuh strategi BI termasuk intervensi valas, pembelian SBN, dan pengetatan valas tanpa underlying.
  • Tekanan eksternal meliputi kenaikan harga minyak, suku bunga AS tinggi, dan penguatan dolar.
  • Faktor musiman seperti dividen dan haji meningkatkan permintaan dolar pada April-Juni.
  • Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan 5,61% dan inflasi rendah.
Galerie
BI Batasi Pembelian Dolar AS Hingga USD 25.000 per Bulan, Rupiah Sentuh Rp 17.425 — image 1BI Batasi Pembelian Dolar AS Hingga USD 25.000 per Bulan, Rupiah Sentuh Rp 17.425 — image 2BI Batasi Pembelian Dolar AS Hingga USD 25.000 per Bulan, Rupiah Sentuh Rp 17.425 — image 3BI Batasi Pembelian Dolar AS Hingga USD 25.000 per Bulan, Rupiah Sentuh Rp 17.425 — image 4BI Batasi Pembelian Dolar AS Hingga USD 25.000 per Bulan, Rupiah Sentuh Rp 17.425 — image 5
Selengkapnya