Tech

Harga Perak Antam Ikuti Emas Rebound, Tembus US$ 74,35 per Troy Ons

Setelah tiga hari berturut-turut tertekan, harga perak kembali menguat 0,84% pada Jumat pagi, didorong pelemahan dolar dan prospek inflasi global.

3 menit
Harga Perak Antam Ikuti Emas Rebound, Tembus US$ 74,35 per Troy Ons
Setelah tiga hari berturut-turut tertekan, harga perak kembali menguat 0,84% pada Jumat pagi, didorong pelemahan dolar dCredit · CNBC Indonesia

Fakta-fakta

  • Harga perak ditutup di US$ 73,73 per troy ons pada Kamis (30/4/2026), naik 3,15%.
  • Pada Jumat (1/5/2026) pukul 06.46 WIB, harga perak menguat 0,84% ke US$ 74,35 per troy ons.
  • Sebelum rebound, perak jatuh tiga hari beruntun dengan pelemahan 5,5%.
  • Harga emas naik 1,76% ke US$ 4.621,59 per troy ons pada Kamis, dan berlanjut naik 0,24% ke US$ 4.632,80 pada Jumat.
  • Indeks dolar AS (DXY) turun setelah sinyal intervensi dari otoritas moneter Jepang untuk menstabilkan yen.
  • Data PCE AS melonjak 0,7% bulan lalu, pertumbuhan tercepat sejak pertengahan 2022.
  • Citi memproyeksikan harga emas jangka pendek di US$ 4.300, dengan potensi mencapai US$ 5.000 dalam 6-12 bulan.
  • Harga minyak dunia melandai setelah sempat menyentuh US$ 126 per barel, tertinggi sejak awal perang Timur Tengah.

Rebound Perak dan Emas di Tengah Pelemahan Dolar

Harga perak dan emas mengalami rebound pada perdagangan Kamis (30/4/2026) setelah tiga hari berturut-turut tertekan. Perak ditutup di posisi US$ 73,73 per troy ons, menguat 3,15%, sementara emas naik 1,76% ke US$ 4.621,59 per troy ons. Momentum penguatan berlanjut pada Jumat pagi: perak naik 0,84% ke US$ 74,35 dan emas naik 0,24% ke US$ 4.632,80. Pelemahan indeks dolar AS (DXY) menjadi pendorong utama. Dolar tertekan setelah otoritas moneter Jepang memberikan sinyal kuat akan melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan yen. Kondisi ini membuat aset yang dihargai dalam dolar, seperti emas dan perak, menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain.

Tekanan Inflasi dan Suku Bunga Tetap Membayangi

Meskipun terjadi rebound, daya tarik logam mulia masih dibatasi oleh prospek kebijakan suku bunga ketat dari bank sentral utama. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat mencatat lonjakan 0,7% bulan lalu, pertumbuhan tercepat sejak pertengahan 2022. Angka ini memperkuat kekhawatiran inflasi tetap tinggi di tengah ketidakpastian konflik di Iran. Akibatnya, Federal Reserve dan Bank of England diprediksi akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi, atau bahkan melakukan pengetatan lebih lanjut jika situasi memburuk. Kenaikan suku bunga cenderung mengurangi minat investor terhadap emas dan perak karena meningkatkan biaya peluang dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil bunga.

Volatilitas Harga Terjaga Akibat Ketegangan Geopolitik dan Energi

Harga minyak dunia sedikit melandai setelah sempat menyentuh level US$ 126 per barel, menembus level tertinggi sejak awal perang Timur Tengah. Meskipun demikian, kekhawatiran terhadap inflasi energi tetap menjadi faktor risiko dominan di pasar komoditas. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran, terus menciptakan ketidakpastian yang mendorong volatilitas harga logam mulia. Para analis melihat potensi pemulihan jangka panjang bagi emas sebagai aset safe-haven, meskipun tekanan jual jangka pendek masih terjadi. Citi memproyeksikan target harga emas yang cukup stabil di US$ 4.300 dalam jangka pendek, dengan potensi mencapai US$ 5.000 dalam kurun waktu 6 hingga 12 bulan ke depan seiring kembalinya kepercayaan pasar terhadap aset aman.

Kinerja Bulanan Emas dan Perak Masih Negatif

Secara bulanan, emas masih mencatatkan penurunan sekitar 0,84%, sementara perak sebelumnya melemah 5,5% dalam tiga hari beruntun sebelum rebound. Volatilitas harga tetap terjaga tinggi akibat tarik-menarik antara risiko inflasi global dan ketegangan geopolitik. Dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi pemulihan jangka pendek, tekanan fundamental masih membayangi prospek logam mulia. Pasar kini menanti kebijakan lanjutan bank sentral dan perkembangan situasi Timur Tengah. Jika inflasi terus meninggi dan suku bunga tetap tinggi, harga perak dan emas bisa kembali tertekan. Namun, jika ketegangan geopolitik mereda dan dolar melemah lebih lanjut, potensi kenaikan masih terbuka lebar.

Ringkasan

  • Harga perak Antam menguat 3,15% pada Kamis dan berlanjut naik 0,84% ke US$ 74,35 pada Jumat pagi.
  • Pelemahan dolar akibat sinyal intervensi Jepang menjadi katalis utama rebound logam mulia.
  • Data PCE AS yang melonjak 0,7% memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, membatasi kenaikan emas dan perak.
  • Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak yang melandai tetap menjadi faktor risiko dominan.
  • Proyeksi Citi menunjukkan target harga emas US$ 4.300 jangka pendek dan potensi US$ 5.000 dalam 6-12 bulan.
  • Volatilitas harga perak dan emas diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.
Galerie
Harga Perak Antam Ikuti Emas Rebound, Tembus US$ 74,35 per Troy Ons — image 1
Selengkapnya