Tech

BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem di Awal Mei 2026 Akibat Gelombang Atmosfer

Sejumlah fenomena atmosfer, termasuk MJO dan gelombang Rossby, masih aktif memicu hujan lebat di berbagai wilayah Indonesia meski musim kemarau mulai mendekat.

3 menit
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem di Awal Mei 2026 Akibat Gelombang Atmosfer
Sejumlah fenomena atmosfer, termasuk MJO dan gelombang Rossby, masih aktif memicu hujan lebat di berbagai wilayah IndoneCredit · BMKG

Fakta-fakta

  • BMKG mencatat hujan sangat lebat hingga ekstrem di Jawa Barat (166,5 mm/hari), Jambi (131,2 mm/hari), Kalimantan Barat (113,8 mm/hari), Sumatera Utara (129,5 mm/hari), dan Maluku (103,1 mm/hari) pada 1-3 Mei 2026.
  • Gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) terpantau melintasi sebagian wilayah Indonesia, memodulasi proses konvektif.
  • Madden-Julian Oscillation (MJO) berada pada fase 2 dan aktif secara spasial di wilayah barat Indonesia, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.
  • Sirkulasi siklonik terdeteksi di pesisir barat dan utara Sumatera, Kalimantan bagian utara, perairan utara Maluku, dan pesisir utara Papua.
  • Suhu maksimum harian tinggi tercatat di Kalimantan Timur (37,1°C), Kalimantan Utara (36,6°C), Sulawesi Tengah (36,2°C), Papua (36,0°C), dan Kalimantan Barat (36,6°C).
  • Monsun Australia mulai menguat, ditandai dominasi angin timuran yang membawa massa udara kering, namun potensi hujan tetap tinggi sepekan ke depan.

Hujan Lebat Landa Lima Provinsi pada Awal Mei

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem melanda lima provinsi pada periode 1-3 Mei 2026. Jawa Barat menjadi wilayah dengan curah hujan tertinggi, mencapai 166,5 mm per hari, diikuti Sumatera Utara (129,5 mm/hari), Jambi (131,2 mm/hari), Kalimantan Barat (113,8 mm/hari), dan Maluku (103,1 mm/hari). Kondisi ini terjadi di tengah peralihan menuju musim kemarau, yang biasanya ditandai dengan berkurangnya curah hujan. Namun, sejumlah fenomena atmosfer masih aktif memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Gelombang Atmosfer dan MJO Jadi Pemicu Utama

BMKG mengidentifikasi beberapa fenomena atmosfer yang bertanggung jawab atas tingginya curah hujan. Gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) terpantau melintasi sebagian wilayah Indonesia, memodulasi proses konvektif pada skala yang lebih luas sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan. Selain itu, Madden-Julian Oscillation (MJO) berada pada fase 2 dan berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah barat Indonesia seperti Pesisir Barat Sumatera. MJO juga aktif secara spasial melintasi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.

Sirkulasi Siklonik dan Faktor Lokal Perparah Hujan

BMKG juga mendeteksi adanya sirkulasi siklonik di beberapa wilayah, yaitu di pesisir barat dan utara Sumatera, Kalimantan bagian utara, perairan utara Maluku, serta pesisir utara Papua. Sirkulasi ini meningkatkan pertumbuhan awan hujan di daerah sekitarnya. Faktor lokal turut berperan. "Pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari serta kelembaban udara yang masih relatif tinggi juga berkontribusi dalam mendukung terbentuknya awan-awan hujan," jelas BMKG dalam pernyataan resminya. Kombinasi faktor skala besar dan lokal menciptakan kondisi atmosfer yang sangat mendukung hujan lebat.

Suhu Tinggi Masih Terjadi Meski Hujan Deras

Meskipun hujan lebat mengguyur sejumlah wilayah, suhu maksimum harian tetap tinggi. Kalimantan Timur mencatat suhu tertinggi 37,1 derajat Celcius, disusul Kalimantan Utara (36,6°C), Kalimantan Barat (36,6°C), Sulawesi Tengah (36,2°C), dan Papua (36,0°C). Menurut BMKG, hal ini menunjukkan pemanasan pada siang hari masih berlangsung cukup kuat. Kondisi panas terik dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari yang tinggi serta mulai menguatnya monsun Australia. Monsun ini ditandai dengan dominasi angin timuran yang membawa massa udara lebih kering, sehingga tutupan awan pada pagi hingga siang hari berkurang dan radiasi matahari lebih optimal mencapai permukaan.

Potensi Hujan Tinggi Sepanjang Sepekan ke Depan

BMKG memperkirakan potensi hujan masih tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia selama sepekan ke depan, periode 5-11 Mei 2026. MJO diprediksi masih berada di fase 2 (Indian Ocean), sementara gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial juga diperkirakan berkontribusi meningkatkan pembentukan awan. Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, banjir, dan tanah longsor, terutama di daerah yang rentan. Meski musim kemarau sudah di depan mata, dinamika atmosfer yang kompleks masih dapat memicu hujan signifikan.

Ringkasan

  • BMKG mencatat hujan ekstrem di lima provinsi pada awal Mei 2026, dengan curah hujan tertinggi di Jawa Barat (166,5 mm/hari).
  • Fenomena atmosfer seperti MJO fase 2, gelombang Rossby, Kelvin, dan MRG menjadi pemicu utama hujan lebat.
  • Sirkulasi siklonik di beberapa perairan dan faktor lokal seperti pemanasan permukaan memperparah kondisi.
  • Suhu maksimum harian tetap tinggi (hingga 37,1°C) akibat radiasi matahari dan monsun Australia yang mulai menguat.
  • Potensi hujan tinggi diprediksi berlangsung hingga 11 Mei 2026, meskipun musim kemarau semakin dekat.
Galerie
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem di Awal Mei 2026 Akibat Gelombang Atmosfer — image 1BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem di Awal Mei 2026 Akibat Gelombang Atmosfer — image 2BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem di Awal Mei 2026 Akibat Gelombang Atmosfer — image 3BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem di Awal Mei 2026 Akibat Gelombang Atmosfer — image 4BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem di Awal Mei 2026 Akibat Gelombang Atmosfer — image 5
Selengkapnya