Tech

IHSG Anjlok di Jumat Kelabu, Pajak Baru dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok

Indeks Harga Saham Gabungan terperosok lebih dari 2,5% akibat tekanan jual besar, terutama pada saham komoditas, dipicu rencana pajak baru dan ketegangan geopolitik.

5 menit
IHSG Anjlok di Jumat Kelabu, Pajak Baru dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok
Indeks Harga Saham Gabungan terperosok lebih dari 2,5% akibat tekanan jual besar, terutama pada saham komoditas, dipicu Credit · CNBC Indonesia

Fakta-fakta

  • IHSG anjlok 179,73 poin atau 2,51% ke level 6.994,58 pada Jumat, 8 Mei 2026.
  • Nilai transaksi perdagangan mencapai lebih dari Rp 30 triliun sebelum sesi berakhir.
  • Saham-saham komoditas seperti nikel, batu bara, dan timah mengalami koreksi dalam.
  • Pemerintah mengkaji penerapan pajak baru (windfall profit tax) dan bea keluar untuk sektor nikel dan batu bara.
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaitkan pajak nikel dengan subsidi energi akibat gejolak harga minyak mentah dunia.
  • Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di Selat Hormuz pada 8 Mei 2026.
  • Ciptadana Sekuritas merekomendasikan saham ARTO, CPIN, MIKA, dan SUPA untuk potensi rebound jangka pendek.

Jumat Kelabu di Bursa Efek Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba ambruk pada sesi kedua perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. Indeks merosot tajam 179,73 poin atau 2,51% hingga menyentuh level 6.994,58 pada pukul 15.25 WIB. Tekanan jual yang masif terlihat jelas dari nilai transaksi yang menembus angka Rp 30,64 triliun, bahkan sebelum perdagangan resmi ditutup. Mayoritas saham mengalami koreksi, merontokkan kapitalisasi pasar menjadi Rp 12.475 triliun. Saham-saham di sektor komoditas, yang menjadi tulang punggung pergerakan indeks belakangan ini, menjadi pemberat utama. Emas, nikel, batu bara, dan timah terpantau mengalami koreksi paling dalam. Dian Swastatika Sentosa (DSSA), salah satu emiten besar, tercatat memberikan kontribusi penurunan terbesar terhadap indeks, mencapai 17,19 poin. Perdagangan pekan ini diakhiri dengan sentimen negatif yang kuat, meninggalkan pelaku pasar dalam ketidakpastian. Peluang penguatan indeks yang sempat terlihat di awal pekan kini tertutup oleh gelombang jual yang tak terduga. Pasar global pun turut memberikan nada pesimistis, menambah beban sentimen negatif di bursa domestik.

Pajak Baru dan Subsidi Energi: Dilema Fiskal Pemerintah

Pemicu utama ambruknya IHSG kali ini diduga kuat berasal dari rencana pemerintah untuk menerapkan kebijakan perpajakan baru terhadap sektor komoditas, khususnya nikel dan batu bara. Kebijakan ini mencakup pengenaan 'windfall profit tax' atau pajak keuntungan tak terduga, serta bea keluar. Rencana ini masih dalam tahap diskusi intensif dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pengenaan pajak tambahan dan bea keluar untuk komoditas nikel ini merupakan langkah strategis untuk mengompensasi beban subsidi energi yang telah dikeluarkan pemerintah. Subsidi ini membengkak akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Pemerintah berupaya keras mengejar target rasio penerimaan negara sebesar 11,82%-12,40% PDB pada tahun 2027. Dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026 menguraikan strategi modernisasi administrasi perpajakan, integrasi basis data melalui digitalisasi, serta penerapan kebijakan perpajakan yang terukur, termasuk 'windfall tax'. Selain itu, pemerintah juga mengkaji penerapan sistem bagi hasil seperti di sektor migas untuk industri pertambangan mineral dan batu bara (minerba), guna memastikan kontribusi maksimal terhadap pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakat.

Gejolak Timur Tengah Membakar Pasar Global

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak, memberikan pukulan telak bagi pasar keuangan global, termasuk bursa saham Indonesia. Pada Kamis-Jumat, 8 Mei 2026, dilaporkan terjadi saling tembak antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Insiden ini mengerek kembali kekhawatiran akan eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan energi global. Dampak ketegangan ini terasa hingga ke pasar Wall Street, yang juga mengalami pelemahan akibat aksi ambil untung pada saham-saham semikonduktor dan ketidakpastian negosiasi antara AS dan Iran. Pasar global yang bergejolak ini secara langsung memengaruhi sentimen investor di Indonesia, mendorong mereka untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko. Sentimen pasar yang beragam ini menjadi latar belakang kompleks bagi para pelaku pasar. Di satu sisi, ada harapan dari pengumuman cadangan devisa dan potensi rebound saham kesehatan yang sempat menguat. Namun, di sisi lain, ancaman konflik geopolitik dan kebijakan fiskal domestik yang baru menciptakan awan gelap yang sulit ditembus.

Rekomendasi Saham dan Proyeksi IHSG

Di tengah gejolak pasar, riset Ciptadana Sekuritas Asia pada Jumat, 8 Mei 2026, merilis empat rekomendasi saham yang dinilai memiliki potensi rebound jangka pendek. Saham-saham tersebut adalah ARTO, CPIN, MIKA, dan SUPA. Analis menyarankan investor untuk mencermati level entry, target profit, dan stop loss sebelum mengambil keputusan investasi. Untuk saham ARTO, strategi yang disarankan adalah 'beli spekulatif' memanfaatkan momentum rebound jangka pendek, dengan pertimbangan harga bertahan di atas zona support kunci dan indikator stochastic oscillator yang mulai mendatar. CPIN direkomendasikan dengan strategi 'buy on weakness', menunggu koreksi sehat sebelum masuk, setelah berhasil mempertahankan support penting di Rp4.000. Sementara itu, MIKA disarankan untuk 'beli spekulatif' pada area support kunci Rp1.860–Rp1.900 untuk technical bounce, dan SUPA disarankan menunggu konfirmasi breakout di atas Rp875 sebelum masuk, mengingat saham ini bergerak dalam fase konsolidasi. Analisis teknikal IHSG sendiri menunjukkan bahwa indeks berhasil mempertahankan support krusial di level 6.900–6.917, sehingga skenario rebound masih valid selama level tersebut bertahan. Pergerakan IHSG pada hari itu diperkirakan berada di rentang 7.040–7.230.

Menanti Kebijakan Pajak dan Momentum Geopolitik

Perkembangan kebijakan perpajakan baru, terutama 'windfall profit tax' untuk sektor komoditas, akan menjadi sorotan utama dalam beberapa waktu ke depan. Keputusan final mengenai penerapan pajak ini, serta besaran bea keluar, akan sangat memengaruhi prospek saham-saham terkait dan kinerja IHSG secara keseluruhan. Diskusi antara pemerintah dan pelaku industri akan menjadi penentu arah kebijakan ini. Sementara itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah terus menjadi faktor risiko yang tak terduga. Setiap eskalasi atau de-eskalasi konflik akan memberikan dampak langsung pada pasar energi dan sentimen investor global. Perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran akan terus dipantau ketat. Selain itu, pengumuman cadangan devisa dan review indeks MSCI pada 12 Mei 2026 pekan depan juga akan memberikan sentimen tambahan bagi pasar. Dengan pasar yang berjalan lebih pendek pekan depan karena libur, volatilitas bisa saja meningkat. Investor perlu mencermati sinyal-sinyal teknikal dan fundamental untuk menavigasi pasar yang penuh ketidakpastian ini.

Ringkasan

  • IHSG mengalami koreksi tajam pada 8 Mei 2026, didorong oleh tekanan jual pada saham komoditas.
  • Rencana penerapan 'windfall profit tax' dan bea keluar untuk sektor nikel dan batu bara menjadi sentimen negatif domestik.
  • Konflik geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar global.
  • Pemerintah berupaya meningkatkan penerimaan negara melalui kebijakan perpajakan baru dan penguatan pengawasan.
  • Beberapa saham seperti ARTO, CPIN, MIKA, dan SUPA direkomendasikan untuk potensi rebound jangka pendek.
  • IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan jika mampu bertahan di atas level support krusial 6.900–6.917.
Galerie
IHSG Anjlok di Jumat Kelabu, Pajak Baru dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok — image 1IHSG Anjlok di Jumat Kelabu, Pajak Baru dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok — image 2IHSG Anjlok di Jumat Kelabu, Pajak Baru dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok — image 3IHSG Anjlok di Jumat Kelabu, Pajak Baru dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok — image 4
Selengkapnya