Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Picu Kekhawatiran Global
Tiga orang meninggal dunia dan belasan lainnya terduga terinfeksi, memicu evakuasi medis dan perbandingan dengan insiden Diamond Princess.

INDONESIA —
Fakta-fakta
- Tiga orang meninggal akibat dugaan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius.
- Sebanyak delapan orang, termasuk satu warga Swiss, diduga tertular virus.
- Kapal MV Hondius berlayar dari Argentina menuju Antarktika dan melintasi Atlantik.
- Tiga pasien dievakuasi dari kapal di Tanjung Verde pada Rabu (6/5/2026).
- Dua pasien tiba di Amsterdam, satu di Kepulauan Canary, Spanyol.
- Lebih dari 140 penumpang dan awak masih berada di kapal.
- WHO menyatakan pola penyebaran hantavirus berbeda dengan COVID-19.
Evakuasi Medis di Tengah Lautan
Petugas kesehatan berseragam hazmat lengkap mengevakuasi tiga pasien dari kapal pesiar MV Hondius pada Rabu (6/5/2026). Kapal ini tengah dilanda wabah virus hanta di lepas pantai Tanjung Verde, Afrika Barat. Dengan menggunakan perahu kecil, belasan petugas bergerak dari Pelabuhan Praira menuju kapal yang mengangkut sekitar 150 penumpang. Dua pasien terkonfirmasi dan satu orang yang diduga terinfeksi dipindahkan dari kapal menuju bandara di Tanjung Verde. Mereka segera diterbangkan ke negara asal masing-masing dengan protokol kesehatan tingkat tinggi. Dua di antaranya tiba di Bandara Amsterdam pada Rabu malam dan dibawa ke rumah sakit berbeda, sementara satu pasien lainnya mendarat di Kepulauan Canary, Spanyol. Kejadian ini mengingatkan pada situasi serupa saat wabah COVID-19 di kapal Diamond Princess pada tahun 2020, menimbulkan kekhawatiran global akan penularan penyakit di ruang terbatas.
Korban Jiwa dan Dugaan Penularan
Sebelumnya, wabah hantavirus di MV Hondius telah merenggut nyawa tiga orang. Sepasang suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman dilaporkan meninggal dunia akibat virus langka ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan delapan orang lainnya, termasuk seorang warga negara Swiss, diduga telah tertular virus tersebut. Wabah ini terjadi selama beberapa minggu di kapal yang berlayar dari Argentina menuju Antarktika, kemudian melintasi Samudra Atlantik. Kapal ini juga melakukan pemberhentian di pulau-pulau terpencil sepanjang perjalanannya, saat penumpang dan awak kapal mulai jatuh sakit. Penularan antarmanusia, menurut WHO, terjadi melalui kontak yang sangat dekat, meskipun pola penyebarannya berbeda dengan COVID-19.
Kronologi Wabah di Kapal
Perjalanan MV Hondius dimulai dari Argentina selatan pada 1 April. Lima hari kemudian, pada 6 April, seorang pria Belanda berusia 70 tahun mulai menunjukkan gejala demam, sakit kepala, dan diare. Ia meninggal di atas kapal pada 11 April setelah mengalami kesulitan bernapas. Saat kejadian, kapal berada di tengah Samudra Atlantik Selatan. Jenazah pria Belanda itu dipindahkan pada 24 April saat kapal berhenti di St Helena. Istrinya yang berusia 69 tahun, yang sudah menunjukkan gejala terjangkit virus, turut turun dari kapal untuk mendampingi. Kondisi wanita tersebut memburuk selama penerbangan ke Afrika Selatan pada 25 April dan ia meninggal di rumah sakit pada 26 April. Penumpang lain, seorang pria Inggris, jatuh sakit setelah meninggalkan St Helena dan berlayar ke Pulau Ascension, menunjukkan gejala demam tinggi, sesak napas, dan pneumonia.
Situasi Penumpang dan Awak Kapal
Lebih dari 140 penumpang dan awak kapal masih berada di atas MV Hondius. Setelah evakuasi medis di Tanjung Verde, kapal tersebut dilaporkan meninggalkan negara kepulauan Afrika Barat itu dan melanjutkan perjalanan menuju Kepulauan Canary di Spanyol. Aktivitas di atas kapal dilaporkan tetap normal meskipun ada kekhawatiran dan kasus yang muncul. Seorang vlogger Turki dilaporkan membongkar suasana di kapal, menunjukkan bahwa kegiatan sehari-hari terus berjalan di tengah situasi yang mencekam. Perkembangan situasi di kapal MV Hondius terus dipantau oleh otoritas kesehatan internasional, mengingat potensi penyebaran virus yang belum sepenuhnya teratasi.
Respons Organisasi Kesehatan Dunia
Menanggapi kekhawatiran yang muncul dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan pernyataan mengenai hantavirus. Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO menegaskan bahwa pola penyebaran virus Hanta berbeda secara signifikan dengan COVID-19. Namun demikian, WHO tidak menampik kemungkinan penularan hantavirus antarmanusia. Penularan ini diyakini terjadi melalui kontak yang sangat dekat antara individu yang terinfeksi dan yang sehat. WHO terus memantau situasi dan memberikan panduan kepada negara-negara anggota terkait penanganan dan pencegahan penyebaran hantavirus.
Perbandingan dengan Insiden Diamond Princess
Penanganan wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius secara otomatis memunculkan perbandingan dengan insiden serupa yang terjadi pada kapal pesiar Diamond Princess pada tahun 2020. Saat itu, kapal tersebut menjadi klaster penyebaran COVID-19 yang signifikan di Jepang. Kedua insiden melibatkan kapal pesiar sebagai lokasi wabah, yang menimbulkan tantangan unik dalam pengendalian penyakit karena kepadatan penumpang dan awak di ruang tertutup. Karantina dan evakuasi medis menjadi langkah krusial dalam upaya penanganan. Pengalaman dari Diamond Princess memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya respons cepat dan koordinasi internasional dalam menghadapi wabah penyakit menular di lingkungan maritim.
Ringkasan
- Wabah hantavirus di kapal MV Hondius telah menyebabkan tiga kematian dan menimbulkan kekhawatiran global.
- Tiga pasien dievakuasi dari kapal di Tanjung Verde dan diterbangkan ke Eropa untuk perawatan medis.
- WHO mengonfirmasi potensi penularan hantavirus antarmanusia melalui kontak dekat, meski polanya berbeda dari COVID-19.
- Kapal MV Hondius, yang berlayar dari Argentina ke Antarktika, kini menuju Kepulauan Canary setelah meninggalkan Tanjung Verde.
- Lebih dari 140 penumpang dan awak kapal masih berada di atas kapal, dengan aktivitas yang dilaporkan berjalan normal.
- Insiden ini memicu perbandingan dengan wabah COVID-19 di kapal Diamond Princess pada tahun 2020.

:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/7966de31-4a02-467f-ba2b-f3b7fada67b4_jpg.jpg)





Pieter Huistra Pastikan PSS Sleman Promosi ke Superliga, Sinyalkan Perpanjangan Kontrak
/data/photo/2026/05/06/69fab2d28ab1e.jpeg)
Timnas U-17 Indonesia Raih Kemenangan Dramatis atas China di Piala Asia

Tiga Pemain Diaspora Jadi Andalan Timnas U-17 Indonesia di Piala Asia 2026
