Arab Saudi dan Kuwait Cabut Pembatasan, AS Pertimbangkan Lanjutkan Misi Hormuz
Washington menilai kembali "Project Freedom" setelah Riyadh dan Kuwait membuka akses pangkalan dan wilayah udara, memulihkan navigasi di Selat Hormuz.

INDONESIA —
Fakta-fakta
- Amerika Serikat mempertimbangkan melanjutkan "Project Freedom" di Selat Hormuz.
- Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan akses militer AS ke pangkalan dan wilayah udara mereka.
- Misi pengawalan kapal "Project Freedom" sempat ditangguhkan setelah beroperasi 36 jam.
- Iran membatasi pelayaran di Selat Hormuz sejak 28 Februari.
- AS memberlakukan blokade laut terhadap lalu lintas maritim Iran sejak pertengahan April.
- Donald Trump mengumumkan penghentian sementara "Project Freedom" pada Selasa (5/5).
- Arab Saudi awalnya memblokir akses pesawat AS ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan dan wilayah udaranya.
AS Pertimbangkan Lanjutkan Misi Pengawalan di Selat Hormuz
Amerika Serikat tengah mengevaluasi kemungkinan untuk melanjutkan "Project Freedom", sebuah misi militer yang dirancang untuk memandu kapal-kapal dari negara-negara netral melintasi Selat Hormuz dengan aman. Keputusan ini muncul setelah Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan akses militer yang sebelumnya mereka terapkan terhadap pangkalan dan wilayah udara kedua negara tersebut. Misi pengawalan kapal ini, yang bertujuan menantang langkah Iran membatasi pelayaran di jalur perairan strategis tersebut, sempat ditangguhkan oleh Presiden Donald Trump. Penangguhan ini terjadi setelah operasi berjalan selama 36 jam, memicu para perencana kebijakan di Pentagon untuk menilai kerangka waktu melanjutkan upaya pengawalan militer tersebut. Beberapa pejabat AS mengindikasikan bahwa misi tersebut dapat dimulai kembali paling cepat minggu ini. Langkah Arab Saudi dan Kuwait ini menghilangkan hambatan signifikan bagi upaya Washington untuk mengamankan jalur pelayaran komersial di kawasan yang sangat penting secara strategis, di tengah meningkatnya ketegangan.
Latar Belakang Ketegangan di Selat Hormuz
Selat Hormuz telah menjadi fokus perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah gencatan senjata diberlakukan pada 8 April dan kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump. Aktivitas pelayaran melintasi selat ini secara efektif ditutup oleh Iran imbas pertempuran melawan AS dan Israel sejak 28 Februari. Amerika Serikat merespons dengan memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di sekitar Selat Hormuz sejak pertengahan April. Pada Selasa (5/5), Trump mengumumkan penghentian sementara "Project Freedom" untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial, namun menegaskan bahwa blokade laut oleh AS tetap berlaku sepenuhnya. Perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, menyusul gencatan senjata, gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen. Situasi ini menyoroti kerentanan jalur pelayaran global yang vital bagi perdagangan energi dunia.
Arab Saudi Awalnya Menolak Akses Militer AS
Keputusan untuk menangguhkan "Project Freedom" secara mendadak dilaporkan didorong oleh protes keras dari Arab Saudi. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyampaikan kepada AS bahwa mereka tidak akan mengizinkan militer Amerika menerbangkan pesawat melalui Pangkalan Udara Pangeran Sultan, yang terletak di tenggara ibu kota Riyadh. Selain itu, Kerajaan juga menolak akses bagi pesawat AS mana pun untuk melintasi wilayah udaranya sebagai bagian dari "Project Freedom". Sebuah pembicaraan telepon dikabarkan terjadi antara Presiden Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), namun keduanya gagal mencapai kesepakatan. Situasi ini memaksa Presiden AS untuk membatalkan operasi tersebut, yang hanya berlangsung selama 48 jam setelah diumumkan. Penangguhan ini disebut-sebut guna memberi ruang bagi negosiasi antara Washington dan Teheran, menyusul serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Teluk dan hantaman rudal di sebuah pelabuhan di Uni Emirat Arab.
Kuwait Ikut Mencabut Pembatasan Akses
Pencabutan pembatasan akses militer oleh Kuwait menjadi faktor krusial yang memungkinkan AS mempertimbangkan kembali kelanjutan "Project Freedom". Langkah ini, bersamaan dengan keputusan Arab Saudi, secara signifikan menghilangkan hambatan bagi upaya Washington mengamankan jalur pelayaran komersial. Sebelumnya, pembatasan akses militer oleh kedua negara Teluk ini diberlakukan setelah peluncuran "Project Freedom" oleh Washington. Keputusan Saudi dan Kuwait untuk membuka kembali akses pangkalan dan wilayah udara mereka memberikan sinyal positif bagi stabilitas navigasi di Selat Hormuz. Para pejabat AS kini tengah menilai kerangka waktu untuk melanjutkan operasi pengawalan militer tersebut. Kembalinya akses ini diharapkan dapat memfasilitasi pergerakan kapal-kapal komersial secara aman di salah satu jalur air paling strategis di dunia.
Dampak pada Stabilitas Regional dan Pasar Minyak
Keputusan Arab Saudi dan Kuwait untuk mencabut pembatasan akses militer AS memiliki implikasi yang luas, tidak hanya bagi operasi militer Washington tetapi juga bagi stabilitas regional dan pasar minyak global. Pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran yang aman dapat meredakan ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% minyak mentah dunia yang diangkut melalui laut. Gangguan terhadap pelayaran di wilayah ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dan mengganggu rantai pasokan energi global. Dengan adanya pencabutan pembatasan, harapan untuk menjaga kelancaran arus perdagangan energi meningkat. Hal ini dapat memberikan efek menenangkan bagi pasar minyak yang cenderung bergejolak akibat ketidakpastian geopolitik di kawasan Teluk.
Negosiasi dan Langkah Selanjutnya
Penangguhan sementara "Project Freedom" sempat dilihat sebagai upaya memberi ruang bagi negosiasi antara Washington dan Teheran. Namun, kegagalan perundingan damai di Islamabad menunjukkan betapa rumitnya upaya penyelesaian konflik di kawasan tersebut. Kini, dengan pencabutan pembatasan oleh Arab Saudi dan Kuwait, fokus kembali beralih pada kelanjutan misi pengawalan militer AS. Para pejabat di Pentagon sedang menilai waktu yang tepat untuk melanjutkan operasi tersebut, yang dapat dimulai paling cepat minggu ini. Keberhasilan "Project Freedom" dalam mengamankan navigasi di Selat Hormuz akan sangat bergantung pada dinamika hubungan AS-Iran dan respons negara-negara regional lainnya. Situasi ini terus berkembang, dengan potensi dampak signifikan terhadap keamanan dan ekonomi global.
Ringkasan
- Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan "Project Freedom" di Selat Hormuz setelah Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan akses militer.
- Pembatasan akses militer AS oleh Arab Saudi awalnya memblokir penggunaan pangkalan udara dan wilayah udara negara tersebut.
- "Project Freedom" adalah misi pengawalan kapal yang diluncurkan AS untuk mengatasi pembatasan pelayaran oleh Iran di Selat Hormuz.
- Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20% minyak mentah dunia.
- Ketegangan di Selat Hormuz meningkat akibat perselisihan AS-Iran dan serangan terhadap kapal-kapal di Teluk.
- Pencabutan pembatasan oleh Saudi dan Kuwait diharapkan dapat memulihkan kebebasan navigasi dan menstabilkan pasar energi.







Al Nassr Terancam Gagal Juara Saudi Pro League Meski Unggul Poin
/data/photo/2026/05/06/69fab2d28ab1e.jpeg)
Timnas U-17 Indonesia Raih Kemenangan Dramatis atas China di Piala Asia

Tiga Pemain Diaspora Jadi Andalan Timnas U-17 Indonesia di Piala Asia 2026
