Eksekutif JPMorgan Lorna Hajdini Digugat Atas Pelecehan Seksual dan Rasial terhadap Koleja Junior
Gugatan yang diajukan dengan nama samaran 'John Doe' mengungkap tuduhan pemerkosaan dengan obat bius, ancaman karier, dan hinaan rasial di bank investasi terkemuka.

INDONESIA —
Fakta-fakta
- Lorna Hajdini, 37 tahun, adalah executive director di divisi Leveraged Finance JPMorgan Chase.
- Gugatan diajukan pada 27 April 2025 di Pengadilan Tinggi New York County oleh 'John Doe', yang diidentifikasi sebagai Chirayu Rana, 35 tahun.
- John Doe mengklaim pelecehan dimulai pada musim semi 2024 setelah keduanya bekerja sama di tim leveraged finance.
- Hajdini dituduh menggunakan Rohypnol dan Viagra untuk memaksa Doe berhubungan seks tanpa persetujuan.
- Hajdini diduga menggunakan kata-kata kasar rasial seperti 'Brown boy Indian' dan menghina istri Doe sebagai 'little Asian, fish head, wife'.
- JPMorgan menyatakan penyelidikan internal tidak menemukan bukti dan menolak semua klaim.
- John Doe mengajukan keluhan internal pada Mei 2025, lalu mencoba negosiasi pesangon senilai 'jutaan dolar' sebelum mengundurkan diri.
- Rana tidak lagi bekerja di JPMorgan dan kini menjadi principal di Bregal Sagemount.
Gugatan Mengguncang Wall Street
Seorang eksekutif perempuan di JPMorgan Chase, Lorna Hajdini, menghadapi tuntutan hukum berat yang diajukan oleh mantan kolega pria yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual, pemaksaan, dan diskriminasi rasial. Gugatan yang diajukan pada Senin lalu di Pengadilan Tinggi New York County ini langsung menjadi sorotan karena rincian mengerikan yang diungkapkan. Penggugat, yang menggunakan nama samaran 'John Doe', bekerja di divisi Leveraged Finance bersama Hajdini. Ia mengklaim bahwa Hajdini menyalahgunakan kekuasaannya untuk memaksanya melakukan hubungan seksual di bawah ancaman dan pengaruh obat-obatan.
Kronologi Pelecehan dan Ancaman
Menurut dokumen pengadilan yang sempat dipublikasikan Daily Mail sebelum ditarik untuk koreksi, pelecehan dimulai pada musim semi 2024. Insiden pertama terjadi ketika Hajdini menjatuhkan pena di dekat meja Doe, lalu saat membungkuk mengambilnya, ia mengusap kaki dan meremas betis Doe sambil berkata, 'Oh, kamu main basket di kampus? Aku suka pemain basket, mereka bikin aku basah.' Ajakan semakin vulgar. Hajdini mengajak Doe minum, dan saat ditolak, ia mengancam, 'Jika kamu tidak segera meniduriku, aku akan menghancurkanmu. Jangan lupa, aku memiliki dirimu.' Ancaman serupa terulang pada September 2024, ketika Hajdini berkata, 'Kau pikir manajemen menginginkan anak laki-laki Brown boy India memimpin originasi? Jika kau tidak meniduriku malam ini, aku akan menyabotase promosimu.'
Pemaksaan dengan Obat dan Kekerasan Seksual
Doe mengaku akhirnya menuruti keinginan Hajdini karena takut akan pembalasan. Namun, protes awalnya didengar oleh saksi yang berada di kamar sebelah, menurut gugatan. Lebih mengerikan lagi, Hajdini diduga mengaku telah memberikan Doe Rohypnol, yang dikenal sebagai 'roofies' atau obat pemerkosaan, serta obat yang memicu ereksi untuk memastikan ia bisa berhubungan seks. Dalam salah satu kejadian, Hajdini datang tanpa diundang ke apartemen Doe, melepas bajunya, meraba payudaranya sendiri, dan menghina istri Doe dengan sebutan 'little Asian, fish head, wife' serta membandingkan ukuran payudaranya.
Bantahan Keras dan Investigasi Internal
Hajdini membantah semua tuduhan melalui pengacaranya. Ia menyatakan 'tidak pernah melakukan perilaku tidak pantas dengan individu ini' dan 'tidak pernah berada di lokasi dugaan pemerkosaan'. JPMorgan Chase, yang juga digugat atas tuduhan pembalasan dan kegagalan investigasi, membantah semua klaim. Seorang juru bicara bank mengungkapkan bahwa penyelidikan internal oleh departemen SDM dan pengacara internal, termasuk peninjauan catatan telepon dan email tim, tidak menemukan bukti yang mendukung tuduhan. 'Banyak karyawan bekerja sama, tetapi pengadu menolak berpartisipasi dan menolak memberikan fakta penting untuk mendukung klaimnya,' kata juru bicara tersebut.
Identitas Penggugat dan Latar Belakang
Sumber mengidentifikasi 'John Doe' sebagai Chirayu Rana, 35 tahun, yang kini bekerja sebagai principal di perusahaan investasi Bregal Sagemount. Rana sebelumnya bekerja di tim leveraged finance JPMorgan, namun tidak melapor langsung ke Hajdini; mereka hanya rekan setim. Ia mengajukan keluhan internal pada Mei 2025, lalu berusaha menegosiasikan pesangon 'jutaan dolar' untuk meninggalkan perusahaan. Rana tidak menanggapi permintaan komentar dari media. Pengacaranya, Daniel J. Kaiser, juga tidak memberikan tanggapan. Sementara itu, dokumen pengadilan yang berisi rincian vulgar telah ditarik untuk 'koreksi', menimbulkan tanda tanya tentang validitas klaim.
Implikasi dan Langkah Selanjutnya
Kasus ini menyoroti dinamika kekuasaan yang tidak seimbang di lingkungan kerja bertekanan tinggi seperti perbankan investasi. Meskipun JPMorgan membantah tuduhan, gugatan ini tetap merusak reputasi bank yang tengah berupaya memperbaiki citra terkait isu keragaman dan inklusi. Ke depannya, pengadilan akan memutuskan apakah gugatan dapat dilanjutkan. Jika terbukti, kasus ini bisa menjadi preseden penting dalam penanganan pelecehan seksual di sektor keuangan. Sementara itu, kedua belah pihak bersiap untuk pertarungan hukum yang panjang.
Ringkasan
- Lorna Hajdini, eksekutif JPMorgan, dituduh melakukan pelecehan seksual dan rasial terhadap kolega junior Chirayu Rana.
- Tuduhan meliputi pemaksaan hubungan seksual dengan obat bius, ancaman karier, dan hinaan rasial.
- JPMorgan menyatakan investigasi internal tidak menemukan bukti dan menolak semua klaim.
- Penggugat mengajukan keluhan internal dan mencoba negosiasi pesangon sebelum mengundurkan diri.
- Dokumen pengadilan ditarik untuk koreksi, menimbulkan keraguan atas kredibilitas tuduhan.
- Kasus ini menyoroti penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan kerja perbankan dan potensi dampak hukumnya.






BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Jakarta dan Kalimantan Barat Akibat Awan Cumulonimbus
Bojan Hodak Waspadai Duo Asing Bhayangkara Jelang Laga Krusial di Bandar Lampung

West Ham Terpuruk 0-3 di Brentford, Zona Degradasi Makin Dekat
