Piala Dunia 2026: Proyeksi Cuan FIFA Rp 226 Triliun, Tuan Rumah Keluhkan Biaya
Turnamen sepak bola terbesar dalam sejarah ini diprediksi menghasilkan pendapatan rekor bagi FIFA, namun kota tuan rumah di AS menghadapi beban finansial yang signifikan.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/11/21/1ca01eb716ec83e85e4be9558818807d-AFP_84M94ZQ.jpg)
INDONESIA —
Fakta-fakta
- FIFA memproyeksikan pendapatan sebesar USD 13 miliar (Rp 226,36 triliun) dari Piala Dunia 2026.
- Total hadiah untuk 48 tim peserta Piala Dunia 2026 mencapai USD 871 juta (Rp 14,3 triliun).
- Juara Piala Dunia 2026 diprediksi akan menerima USD 53,5 juta, naik dari USD 42 juta pada 2022.
- Tiket final Piala Dunia 2026 di New Jersey bisa mencapai USD 10.990 (Rp 190 miliar di platform penjualan ulang).
- Pemesanan kamar hotel di AS untuk Piala Dunia 2026 dilaporkan jauh di bawah ekspektasi.
- 65% responden survei AHLA menyebut hambatan visa dan kekhawatiran konflik geopolitik menekan permintaan.
- NJ Transit menerapkan tarif USD 150 untuk kereta dari Manhattan ke Stadion MetLife, naik 1.200% dari tarif normal.
Proyeksi Pendapatan Rekor FIFA di Tengah Kekhawatiran Tuan Rumah
Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi ajang sepak bola terbesar sekaligus paling menguntungkan dalam sejarah. Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini sebagai acara terbesar yang pernah disaksikan umat manusia, didukung oleh proyeksi pendapatan fantastis sebesar USD 13 miliar atau sekitar Rp 226,36 triliun untuk siklus empat tahunan. Angka ini jauh melampaui Olimpiade Paris 2024 yang hanya menghasilkan sekitar USD 5,24 miliar. Lonjakan pendapatan FIFA utamanya didorong oleh keputusan membawa turnamen ke Amerika Utara dan perluasan jumlah peserta menjadi 48 tim, yang meningkatkan jumlah pertandingan dari 64 menjadi 104 laga. Namun, di balik potensi keuntungan besar ini, kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat menghadapi beban finansial yang signifikan, terutama terkait biaya keamanan dan transportasi. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kelancaran penyelenggaraan acara akbar tersebut.
Ekspansi Turnamen dan Peningkatan Pendapatan FIFA
Peningkatan jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim telah mengubah dinamika Piala Dunia 2026. Dengan total 104 pertandingan, FIFA memiliki lebih banyak konten untuk dijual kepada penyiar global, terutama di pasar besar seperti Amerika Utara dan Eropa, yang secara signifikan mendongkrak pendapatan dari hak siar televisi. Selain hak siar, pilar pendapatan utama lainnya yang mengalami pertumbuhan signifikan meliputi penjualan tiket, hospitality, sponsor, dan lisensi. Kemitraan komersial dengan merek global seperti Adidas, Aramco, dan Coca-Cola diproyeksikan menyumbang USD 2,7 miliar. FIFA juga menunjukkan fleksibilitas dengan menawarkan paket sponsor regional yang lebih disesuaikan. FIFA menerapkan skema harga tiket dinamis, yang memicu kritik pedas. Tiket termahal untuk laga final di Stadion MetLife, New York-New Jersey, dibanderol mencapai USD 10.990, sebuah lompatan besar dibandingkan final Piala Dunia Qatar 2022. Bahkan, di platform penjualan ulang resmi FIFA, tiket final sempat terpampang dengan harga fantastis hampir Rp 190 miliar.
Total Hadiah Terbesar dalam Sejarah, Namun Beban Tuan Rumah
Di tengah potensi pendapatan yang melimpah, FIFA mengumumkan total hadiah Piala Dunia 2026 mencapai USD 871 juta atau sekitar Rp 14,3 triliun, menjadikannya edisi termahal sepanjang sejarah. Setiap negara peserta, dengan minimal 48 tim, kini dijamin mendapatkan setidaknya USD 12,5 juta, yang terdiri dari dana persiapan USD 2,5 juta dan bonus kelolosan USD 10 juta. Angka ini meningkat dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar. Sang juara Piala Dunia 2026 diprediksi akan membawa pulang USD 53,5 juta, sebuah peningkatan signifikan dari USD 42 juta yang diterima juara tahun 2022. Namun, skema pembagian keuntungan ini menimbulkan ketidakseimbangan. Berdasarkan perjanjian kontrak, FIFA mengambil seluruh pendapatan dari tiket, sponsor, dan biaya parkir. Sebaliknya, kota tuan rumah diwajibkan menanggung biaya keamanan dan transportasi. Gubernur New Jersey, Mikie Sherrill, mengkritik FIFA karena tidak berkontribusi pada biaya transportasi publik. Akibatnya, layanan transit New Jersey harus membebankan biaya USD 150 untuk perjalanan pulang pergi dari Manhattan ke stadion untuk menutupi tagihan sebesar USD 48 juta, agar tidak membebani pembayar pajak kota.
Pemesanan Hotel Jauh di Bawah Ekspektasi
Hingga sekitar sebulan sebelum pembukaan Piala Dunia 2026, tingkat pemesanan kamar hotel di Amerika Serikat dilaporkan jauh di bawah ekspektasi. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Hotel dan Penginapan Amerika (AHLA) terhadap anggotanya di 11 wilayah metropolitan AS yang menjadi tuan rumah menunjukkan gambaran suram. Sebanyak 65 persen dari total responden menyebut hambatan visa dan kekhawatiran konflik geopolitik yang lebih luas sebagai isu utama yang menekan permintaan kamar. Kebijakan pemerintah AS, seperti larangan perjalanan terhadap sejumlah negara dan pengetatan visa kunjungan, berpotensi menyulitkan para pendukung tim untuk berkunjung. Di Kansas City, pemesanan hotel hingga saat ini dilaporkan sangat jauh di bawah ekspektasi, bahkan berada di bawah tingkat normal untuk bulan Juni dan Juli. Hal ini menunjukkan adanya tantangan dalam menarik minat pengunjung internasional, meskipun AS dan FIFA berusaha meyakinkan bahwa pengalaman bagi pengunjung akan lancar.
Lonjakan Biaya Transportasi dan Kekhawatiran Suporter
Selain hambatan visa dan geopolitik, para pendukung tim juga menyuarakan kekhawatiran tentang harga tiket yang tinggi dan praktik kenaikan harga akomodasi yang mencekik. Salah satu contoh nyata adalah peningkatan biaya transportasi di New Jersey, yang melonjak hingga nyaris 1.200 persen dari tarif normal. NJ Transit, pengelola transportasi publik di Negara Bagian New Jersey–New York, akan menerapkan tarif USD 150 untuk kereta bolak-balik dari Manhattan menuju Stadion MetLife. Tarif normal untuk perjalanan ini biasanya hanya USD 12,9. Kenaikan drastis ini terjadi karena NJ Transit harus menutupi biaya operasional sebesar USD 48 juta yang tidak ditanggung oleh FIFA. Kenaikan biaya ini menambah beban finansial bagi para suporter yang ingin menyaksikan pertandingan. Para kelompok suporter juga mengeluhkan harga tiket pertandingan yang tinggi, yang sebagian disebabkan oleh sistem harga dinamis yang diterapkan FIFA. Harga tiket termurah untuk fase grup saja bisa mencapai USD 380 atau sekitar Rp 6,2 juta.
Minat Publik Tetap Tinggi Meski Ada Kontroversi
Meskipun dihadapkan pada berbagai kontroversi terkait harga tiket yang melonjak tajam dan beban biaya yang ditanggung tuan rumah, minat publik terhadap Piala Dunia 2026 disebut tetap sangat tinggi. Presiden FIFA Gianni Infantino mengungkapkan bahwa organisasi tersebut telah menerima sekitar 508 juta permintaan untuk tujuh juta tiket pertandingan yang tersedia. Jika terealisasi, jumlah penonton langsung Piala Dunia 2026 diprediksi akan jauh melampaui turnamen Qatar 2022 yang dihadiri lebih dari 3,4 juta penonton sepanjang kompetisi. Tingginya permintaan tiket ini menunjukkan daya tarik global Piala Dunia yang luar biasa, bahkan di tengah tantangan ekonomi dan logistik yang dihadapi para penggemar. Potensi besar ini menegaskan status Piala Dunia sebagai salah satu acara olahraga paling dinanti di dunia. Namun, tantangan bagi FIFA dan kota tuan rumah adalah bagaimana menyeimbangkan potensi keuntungan finansial dengan pengalaman yang ramah dan terjangkau bagi semua pihak yang terlibat.
Ringkasan
- FIFA menargetkan rekor pendapatan USD 13 miliar dari Piala Dunia 2026, didorong oleh ekspansi turnamen dan hak siar.
- Total hadiah yang disiapkan FIFA untuk 48 tim peserta mencapai USD 871 juta, menjadikannya yang termahal dalam sejarah.
- Kota tuan rumah di AS menghadapi beban biaya keamanan dan transportasi yang signifikan karena FIFA tidak berkontribusi.
- Pemesanan hotel di AS dilaporkan jauh di bawah ekspektasi, dipengaruhi oleh hambatan visa dan kekhawatiran geopolitik.
- Harga tiket Piala Dunia 2026 mengalami lonjakan drastis, dengan tiket final mencapai ribuan dolar AS.
- Meskipun ada kontroversi, minat publik terhadap Piala Dunia 2026 tetap sangat tinggi, terbukti dari jutaan permintaan tiket.


:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/11/21/1ca01eb716ec83e85e4be9558818807d-AFP_84M94ZQ.jpg)
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/22/935087ce2904ce1078d9842bd3889bf3-wires_photo_34.jpg)
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/11/18/b267677c804f49c2c137ee207167eb3e-Trump_FIFA_WCup_134139319.jpg)


Pieter Huistra Pastikan PSS Sleman Promosi ke Superliga, Sinyalkan Perpanjangan Kontrak
/data/photo/2026/05/06/69fab2d28ab1e.jpeg)
Timnas U-17 Indonesia Raih Kemenangan Dramatis atas China di Piala Asia

Tiga Pemain Diaspora Jadi Andalan Timnas U-17 Indonesia di Piala Asia 2026
