Purbaya Sebut Ekonomi RI Mulai Keluar dari 'Kutukan' Pertumbuhan 5 Persen
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim pertumbuhan 5,61% pada triwulan I-2026 menandai keluar dari stagnasi, meski ekonom soroti jurang dengan kondisi riil.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/24/074e7cce883f567f8e94e0c6953bc04f-WhatsApp_Image_2026_04_24_at_18.42.32_1_.jpeg)
INDONESIA —
Fakta-fakta
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2026 mencapai 5,61%, tertinggi dalam 14 triwulan.
- Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52% (yoy) didorong Ramadhan dan Lebaran.
- Konsumsi pemerintah tumbuh 21,81% (yoy), tertinggi sejak tahun dasar 2010.
- Sektor konstruksi tumbuh 5,49% seiring penambahan SPPG dan Koperasi Desa Merah Putih.
- Sektor akomodasi dan makanan minuman tumbuh 13,14% karena perluasan MBG dan libur nasional.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut capaian ini menunjukkan keluar dari 'kutukan' pertumbuhan 5%.
- Pertumbuhan triwulan IV-2025 sebesar 5,39% menjadi basis perbandingan.
Lonjakan Belanja Pemerintah dan Musiman Dongkrak PDB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen, level tertinggi dalam 14 triwulan terakhir. Namun, capaian ini lebih banyak ditopang oleh faktor musiman dan agresivitas belanja pemerintah, sementara indikator sektor riil justru menunjukkan perlambatan atau stagnasi. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, konsumsi rumah tangga pada periode tersebut tumbuh 5,52 persen secara tahunan, terutama didorong oleh mobilitas selama Ramadhan dan Lebaran. Di sisi lain, pengeluaran konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen secara tahunan, menjadikannya yang tertinggi sejak tahun dasar 2010. "Kalau kita lihat di triwulan I-2026, produk domestik bruto (PDB) menurut pengeluaran belanja pemerintah itu tertinggi sejak tahun dasar 2010," ujar Amalia dalam konferensi pers hibrida di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Sektor Konstruksi dan Akomodasi Jadi Motor Utama
Kontribusi belanja pemerintah tecermin pada pertumbuhan sektor konstruksi yang menguat 5,49 persen, sejalan dengan meningkatnya aktivitas konstruksi swasta. Pertumbuhan ini salah satunya ditopang oleh penambahan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Sektor akomodasi dan makanan minuman mencatat pertumbuhan 13,14 persen secara tahunan. Amalia mengaitkan hal ini dengan peningkatan kinerja penyediaan makan-minum seiring perluasan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen libur nasional. Kedua sektor tersebut menjadi penopang utama di tengah perlambatan di sektor riil lainnya, menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan pertumbuhan ke depan.
Purbaya: Kita Mulai Keluar dari 'Kutukan' Pertumbuhan 5 Persen
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers APBN Kita edisi Maret 2026 di Jakarta, Selasa, menyebut capaian 5,61 persen mencerminkan keberhasilan menjaga stabilitas makro di tengah gejolak ekonomi global. "Ini menunjukkan bahwa kita mulai keluar dari apa yang selama ini disebut sebagai 'kutukan' pertumbuhan 5 persen," ujarnya. Purbaya menekankan bahwa pertumbuhan triwulan I-2026 lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2025 yang sebesar 5,39 persen. Ia mengklaim Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan sesuai target meskipun tekanan global tidak menentu. Pernyataan ini muncul di tengah kritik para ekonom yang mengingatkan adanya jurang antara kinerja agregat dan kondisi riil di lapangan.
Ekonom Peringatkan Jurang Antara Agregat dan Realitas
Di balik angka pertumbuhan yang mengilap, para ekonom mengingatkan bahwa capaian tersebut lebih banyak didorong oleh faktor musiman dan belanja pemerintah yang agresif. Realitasnya, beragam indikator sektor riil justru menunjukkan perlambatan atau stagnasi. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen masih didorong oleh momen Ramadhan dan Lebaran, yang bersifat sementara. Sementara itu, konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81 persen menimbulkan kekhawatiran tentang ketergantungan pada belanja negara. Tanpa faktor musiman dan suntikan fiskal, pertumbuhan ekonomi berpotensi kembali ke level di bawah 5 persen, seperti yang terjadi pada triwulan-triwulan sebelumnya.
Program MBG dan Koperasi Desa Jadi Penopang Tambahan
Perluasan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu pendorong sektor akomodasi dan makanan minuman. Program ini meningkatkan permintaan terhadap jasa penyediaan makan-minum, berkontribusi pada pertumbuhan 13,14 persen. Selain itu, penambahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Koperasi Desa Merah Putih turut mendorong sektor konstruksi. Aktivitas konstruksi swasta juga meningkat, memperkuat pertumbuhan sektor tersebut. Namun, efektivitas program-program ini dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang masih dipertanyakan, terutama jika belanja pemerintah tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas sektor riil.
Tantangan Keberlanjutan di Tengah Gejolak Global
Menteri Keuangan Purbaya mengakui adanya tekanan perekonomian global yang sangat tidak menentu. Meski demikian, ia optimistis Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen. Para ekonom justru memperingatkan bahwa ketergantungan pada belanja pemerintah dan faktor musiman membuat pertumbuhan rentan terhadap guncangan eksternal. Jika belanja pemerintah dikurangi atau musim libur berakhir, pertumbuhan bisa melambat. Pertanyaan tentang kualitas pertumbuhan juga mengemuka: apakah kenaikan PDB benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, atau hanya terpusat pada sektor-sektor tertentu yang didorong oleh program pemerintah.
Jalan ke Depan: Reformasi Struktural atau Ketergantungan Fiskal?
Capaian 5,61 persen memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengklaim keberhasilan, namun tantangan struktural tetap ada. Para ekonom mendesak agar pemerintah tidak hanya mengandalkan belanja konsumtif, tetapi juga mendorong investasi dan produktivitas. Reformasi di sektor riil, seperti kemudahan berusaha dan peningkatan daya saing, dinilai lebih penting untuk pertumbuhan jangka panjang. Tanpa itu, Indonesia berisiko kembali terjebak dalam 'kutukan' pertumbuhan 5 persen yang disebut Purbaya. Ke depan, pemerintah perlu menunjukkan bahwa pertumbuhan ini dapat dipertahankan tanpa bergantung pada faktor musiman dan belanja negara yang agresif.
Ringkasan
- Pertumbuhan 5,61% didorong konsumsi rumah tangga musiman dan lonjakan belanja pemerintah 21,81%.
- Menteri Keuangan Purbaya mengklaim Indonesia keluar dari 'kutukan' pertumbuhan 5%, namun ekonom menyoroti jurang dengan sektor riil.
- Sektor konstruksi dan akomodasi tumbuh berkat program SPPG, Koperasi Desa, dan MBG.
- Tanpa faktor musiman dan fiskal, pertumbuhan berpotensi kembali stagnan di bawah 5%.
- Reformasi struktural diperlukan agar pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/24/074e7cce883f567f8e94e0c6953bc04f-WhatsApp_Image_2026_04_24_at_18.42.32_1_.jpeg)
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/05/04/77777a0ab5573ed6c87ae8684690467c-20260504_H01_PMI_Manufaktur_mumed.png)

Pieter Huistra Pastikan PSS Sleman Promosi ke Superliga, Sinyalkan Perpanjangan Kontrak
PSM Makassar, Klub Tertua Indonesia, Raih Kemenangan 2-1 atas Bhayangkara FC

Tiga Pemain Diaspora Jadi Andalan Timnas U-17 Indonesia di Piala Asia 2026
