Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, BI Lakukan Intervensi Berlapis di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Bank Indonesia memastikan langkah stabilisasi melalui pasar valas dan surat berharga, sementara eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz memperburuk tekanan terhadap mata uang emerging market.

INDONESIA —
Fakta-fakta
- Rupiah ditutup melemah 30 poin atau 0,17% ke Rp17.424 per dolar AS pada Selasa (5/5).
- Kurs JISDOR BI melemah ke Rp17.425 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.368.
- BI mengoptimalkan intervensi melalui NDF offshore, spot, DNDF domestik, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
- Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Erwin G Hutapea menyatakan pelemahan rupiah sejalan dengan depresiasi mata uang emerging market lainnya.
- Philippine peso melemah 6,58%, Thailand baht 5,04%, India rupee 4,32%, Chile peso 4,24%, rupiah 3,65%, Korea won 2,29% sejak konflik Timur Tengah.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 tercatat 5,61% yoy, didorong konsumsi rumah tangga dan stimulus pemerintah.
- Analis DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih tertekan namun terbatas menanti rilis data PDB kuartal I.
- Pengamat Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan dipicu perebutan kendali Selat Hormuz antara AS dan Iran.
Tekanan Baru di Selat Hormuz Memperlemah Rupiah
Nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Selasa (5/5), ditutup turun 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp17.424 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.394. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke Rp17.425 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.368. Pelemahan ini terjadi di tengah eskalasi konflik baru antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen pasar tetap rapuh setelah pertukaran militer kembali terjadi pada Senin (4/5). Pasukan AS dan Iran melancarkan serangan baru di Teluk, masing-masing berupaya menegaskan kendali atas jalur air strategis tersebut.
Insiden Militer dan Klaim Berbeda dari Kedua Belah Pihak
Menurut laporan yang dikutip dari Sputnik, pasukan bersenjata AS melepaskan tembakan terhadap dua kapal sipil yang mengangkut barang dari Khasab, Oman menuju Iran, menewaskan lima orang. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa Iran telah menembaki kapal perang AS dan kapal komersial, sehingga Amerika membalas tembakan dan menghancurkan kapal-kapal kecil milik Iran. Namun, stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengutip sumber militer senior setempat yang membantah pernyataan Amerika. Iran dinyatakan hanya mencegah kapal-kapal AS melintas dengan menembakkan dua rudal ke arah satu kapal perang AS. Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa kenaikan ketegangan ini secara efektif menghancurkan gencatan senjata yang rapuh dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.
BI Tegaskan Komitmen Stabilisasi Melalui Intervensi Berlapis
Menghadapi tekanan eksternal, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea menyatakan dalam keterangan resmi bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang negara berkembang sejak pecahnya konflik di Timur Tengah. Erwin menjelaskan bahwa BI mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga keseimbangan pasar dan menahan gejolak nilai tukar di tengah tekanan global yang belum mereda.
Perbandingan Pelemahan Mata Uang Emerging Market
Sejak awal konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan terhadap mata uang emerging market terjadi cukup merata. Erwin memaparkan data perbandingan depresiasi: Philippine peso melemah 6,58 persen, Thailand baht 5,04 persen, India rupee 4,32 persen, Chile peso 4,24 persen, sementara rupiah melemah 3,65 persen dan Korea won 2,29 persen. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan, meski pelemahannya terbatas karena pelaku pasar menanti rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal I Indonesia. Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah masih bersumber dari penguatan dolar AS yang dipicu memanasnya tensi geopolitik global.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Tercatat 5,61 Persen
Di tengah tekanan nilai tukar, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026. Konsumsi masyarakat menjadi penopang utama, didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan Hari Besar Keagamaan (Nyepi dan Idul Fitri). Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi serta stimulus seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI-Rate pada level 4,75 persen turut mendorong konsumsi masyarakat. Data ini memberikan gambaran fundamental domestik yang masih solid meskipun rupiah tertekan.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Bank Indonesia memastikan langkah stabilisasi terus dilakukan melalui intervensi berlapis di pasar keuangan. Erwin menegaskan komitmen BI untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor risiko utama. Pertukaran militer terbaru antara AS dan Iran di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dan memperkuat dolar AS. Pelaku pasar kini menanti data PDB kuartal I Indonesia sebagai indikator ketahanan ekonomi domestik di tengah gejolak global.
Ringkasan
- Rupiah melemah ke Rp17.424 per dolar AS, level terlemah dalam periode terkini, dipicu eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz.
- BI melakukan intervensi berlapis melalui NDF, spot, DNDF, dan pembelian SBN untuk menstabilkan rupiah.
- Pelemahan rupiah sebesar 3,65% sejak konflik Timur Tengah lebih rendah dibandingkan peso Filipina (6,58%) dan baht Thailand (5,04%).
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 mencapai 5,61% yoy, didorong konsumsi rumah tangga dan stimulus pemerintah.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi ancaman utama terhadap stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
- Analis memperkirakan rupiah masih tertekan namun pelemahan terbatas menanti rilis data PDB kuartal I.




Pieter Huistra Pastikan PSS Sleman Promosi ke Superliga, Sinyalkan Perpanjangan Kontrak
PSM Makassar, Klub Tertua Indonesia, Raih Kemenangan 2-1 atas Bhayangkara FC

Tiga Pemain Diaspora Jadi Andalan Timnas U-17 Indonesia di Piala Asia 2026
