AS Lancarkan Serangan ke Tujuh Kapal Iran di Selat Hormuz, Proyek Kebebasan Dimulai
Operasi militer AS untuk membuka blokade Selat Hormuz memicu serangan balik dan klaim korban sipil dari Iran.

INDONESIA —
Fakta-fakta
- AS menyerang tujuh kapal cepat Iran di Selat Hormuz menggunakan helikopter.
- Presiden Trump mengumumkan serangan sebagai bagian dari 'Project Freedom' untuk mengawal kapal keluar dari Teluk.
- Media Iran melaporkan dua kapal kargo kecil terkena serangan, menewaskan lima warga sipil.
- Kapal berbendera AS, Alliance Fairfax, berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS pada 4 Mei.
- Uni Emirat Arab melaporkan tanker milik Adnoc, MT Barakah, terkena serangan di Selat Hormuz.
- Korea Selatan melaporkan ledakan di salah satu kapalnya yang berlabuh di dekat UEA.
- AS mengerahkan 15.000 personel, lebih dari 100 pesawat, dan kapal perusak berpemandu rudal untuk proyek ini.
- Iran mengklaim telah menembakkan rudal ke kapal perang AS, namun CENTCOM membantah.
Serangan Pembuka dan Klaim Berbeda
Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap tujuh kapal cepat Iran di Selat Hormuz pada awal pekan ini, menandai dimulainya 'Project Freedom' — sebuah operasi militer untuk memandu kapal-kapal yang terdampar melewati selat tersebut. Presiden Donald Trump mengonfirmasi serangan itu, mengatakan, 'Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, kapal cepat. Itu saja yang mereka miliki.' Militer AS menggunakan helikopter dalam serangan tersebut. Namun, media pemerintah Iran, Tasnim, membantah klaim Trump. Mengutip sumber militer, Tasnim melaporkan bahwa dua kapal kargo kecil yang terkena serangan justru menewaskan lima warga sipil. Perbedaan narasi ini langsung memicu ketegangan diplomatik, dengan Iran mengecam tindakan AS sebagai agresi.
Proyek Kebebasan: Rencana dan Pelaksanaan
Project Freedom, yang diumumkan Trump beberapa hari sebelumnya, bertujuan membuka blokade Selat Hormuz yang diberlakukan Iran sejak Februari. Pada Senin, 4 Mei, Angkatan Laut AS mulai mengawal kapal-kapal yang terdampar di perairan Teluk untuk keluar melalui selat tersebut. Kapal pertama yang berhasil adalah Alliance Fairfax, kapal kargo berbendera AS milik perusahaan pelayaran Maersk. Maersk menyatakan bahwa kapal tersebut telah dihubungi oleh pihak AS yang menawarkan perlindungan militer. 'Kapal tersebut kemudian keluar dari Teluk Persia ditemani oleh aset militer AS tanpa insiden, dan semua awak kapal selamat serta tidak terluka,' demikian pernyataan perusahaan. Keberhasilan ini menjadi bukti awal bahwa proyek tersebut dapat berjalan, meskipun masih banyak kapal lain yang menunggu giliran.
Eskalasi: Serangan Balik dan Tuduhan Baru
Ketegangan meningkat ketika Uni Emirat Arab melaporkan bahwa sebuah kapal tanker milik perusahaan minyak negara Adnoc, MT Barakah, terkena serangan di Selat Hormuz. Serangan terjadi saat tanker kosong itu berusaha melintasi selat. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi adanya tanker yang ditembak di utara Fujairah, UEA. Iran dituding berada di balik serangan tersebut, meskipun Teheran belum mengeluarkan pernyataan resmi. Sementara itu, Korea Selatan melaporkan ledakan di salah satu kapalnya yang berlabuh di dekat UEA. Belum ada informasi mengenai penyebab ledakan atau korban jiwa. Insiden-insiden ini menunjukkan bahwa meskipun AS mengklaim proyek berjalan lancar, ancaman terhadap kapal-kapal komersial masih nyata.
Kekuatan Militer dan Strategi AS
Untuk mendukung Project Freedom, AS mengerahkan kekuatan militer yang signifikan. Komando Operasi Tengah (CENTCOM) menyatakan bahwa lebih dari 100 pesawat dan helikopter, 15.000 personel, serta sejumlah kapal perusak berpemandu rudal dikerahkan. Panglima CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menegaskan, 'Dukungan kami untuk misi pertahanan ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global karena kami juga mempertahankan blokade angkatan laut.' AS juga membentuk gugus tugas maritim untuk menghidupkan kembali lalu lintas dan memulihkan kepercayaan di antara kapal-kapal komersial. Strategi yang diterapkan adalah menyediakan rute pelayaran aman di sisi selatan selat, dekat perairan Oman, sementara rute biasa yang lebih dekat dengan Iran dinyatakan tidak aman karena diduga dipasangi ranjau laut oleh Iran.
Respons Iran dan Klaim Rudal
Iran merespons dengan klaim bahwa kapal perang AS telah ditembak rudal. Kantor berita Fars melaporkan bahwa dua rudal ditembakkan ke kapal perang AS di dekat Selat Hormuz setelah kapal tersebut melanggar aturan keamanan pelayaran Iran. Fars menyatakan bahwa kapal berbalik arah sebelum melintasi selat, namun tidak menjelaskan apakah rudal mengenai sasaran. CENTCOM dengan tegas membantah adanya insiden tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa peristiwa di selat tersebut 'menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik'. Pernyataan ini menegaskan sikap Iran yang menolak pendekatan militer AS dan mengisyaratkan bahwa konflik hanya akan berlarut-larut tanpa penyelesaian diplomatik.
Dampak Ekonomi dan Prospek ke Depan
Blokade Selat Hormuz telah mengganggu lalu lintas maritim global, mengingat selat ini merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas. Kapal-kapal yang terdampar sejak Februari mulai bergerak kembali berkat Project Freedom, namun serangan terhadap tanker Adnoc dan ledakan kapal Korea Selatan menimbulkan kekhawatiran baru. Perusahaan pelayaran mungkin akan ragu untuk melintasi selat tanpa jaminan keamanan penuh. Ke depannya, keberhasilan Project Freedom bergantung pada kemampuan AS untuk menjaga jalur tetap aman dan mencegah serangan balik dari Iran. Sementara itu, Iran terus menegaskan haknya berdasarkan UNCLOS untuk melintas, dan tokoh seperti Mojtaba Khamenei menyerukan pengusiran AS dari Teluk. Tanpa dialog diplomatik, ketegangan di Selat Hormuz tampaknya akan terus berlanjut, dengan risiko eskalasi yang lebih luas.
Ringkasan
- AS meluncurkan Project Freedom dengan serangan terhadap tujuh kapal Iran, namun Iran mengklaim korban sipil dan membantah versi AS.
- Kapal pertama, Alliance Fairfax, berhasil dikawal keluar dari Selat Hormuz tanpa insiden, menunjukkan operasi dapat berjalan.
- Serangan terhadap tanker Adnoc dan ledakan kapal Korea Selatan menandakan ancaman masih ada di luar kendali AS.
- AS mengerahkan 15.000 personel, 100+ pesawat, dan kapal perusak untuk mengamankan rute alternatif di selatan selat.
- Iran mengklaim telah menembak kapal perang AS, namun AS membantah; ketegangan diplomatik meningkat.
- Menteri Luar Negeri Iran menegaskan tidak ada solusi militer untuk krisis, mengisyaratkan perlunya pendekatan diplomatik.

:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/03/04/2d964adabd258b78294b7978887cac69-9161272.jpg)





Gempa M4,0 Guncang Pangandaran, Warga Berlarian Keluar Rumah

TASPEN Salurkan Santunan Rp283 Juta ke Ahli Waris Guru Korban Kecelakaan KRL di Bekasi

China Juara Thomas Cup 2026, Dekati Rekor 14 Gelar Indonesia
