Harga Minyak Tembus 126 Dolar AS di Tengah Blokade Selat Hormuz
Kenaikan tertinggi dalam empat tahun dipicu konflik AS-Iran dan gangguan jalur energi vital dunia.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/30/71c053ac4f8d77024ab6183ae0b91b80-TOPSHOT_IRAQ_IRAN_US_ISRAEL_WAR_137864359.jpg)
INDONESIA —
Fakta-fakta
- Minyak Brent sempat menyentuh 126,41 dolar AS per barel pada 30 April 2026.
- Centcom menahan 41 tanker bermuatan 69 juta barel minyak Iran senilai lebih dari 6 miliar dolar AS.
- Presiden Trump menyatakan blokade pelabuhan Iran dapat berlangsung berbulan-bulan.
- Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengklaim kendali atas krisis di Selat Hormuz.
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut blokade AS melanggar hukum internasional.
- Kontrak berjangka minyak Juni berakhir, menggeser volume perdagangan ke bulan berikutnya.
Lonjakan Harga Minyak ke Level Tertinggi Empat Tahun
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, menembus level 126 dolar AS per barel sebelum akhirnya terkoreksi. Minyak mentah Brent, acuan global, sempat menyentuh 126,41 dolar AS per barel, level tertinggi dalam sekitar empat tahun terakhir, sebelum turun sekitar 1,5 persen ke kisaran 116 dolar AS. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) relatif stabil di sekitar 106 dolar AS per barel. Lonjakan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Kenaikan harga terutama dipicu oleh peningkatan ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran akan eskalasi konflik membuat pelaku pasar bereaksi cepat mendorong harga ke level yang lebih tinggi. Koreksi harga setelah lonjakan mencerminkan ketidakpastian pasar, di mana investor harus menimbang antara risiko geopolitik dan dinamika teknis perdagangan minyak. Salah satu faktor teknis yang berpengaruh adalah berakhirnya kontrak berjangka bulan Juni, yang menggeser volume perdagangan ke kontrak bulan berikutnya.
Blokade AS di Selat Hormuz Memperketat Pasokan
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran. Upaya diplomasi yang belum membuahkan hasil membuat jalur penting pengiriman energi, Selat Hormuz, tetap terganggu dan mempersempit pasokan global. Komando Tengah AS (Centcom) pada Rabu lalu menyatakan berhasil memberi tekanan signifikan terhadap Teheran dengan menahan 41 tanker yang mengangkut 69 juta barel minyak asal Iran, dengan nilai lebih dari 6 miliar dolar AS. Presiden AS Donald Trump, dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin perusahaan minyak, menyatakan bahwa blokade atas pelabuhan Iran dapat dilakukan selama berbulan-bulan. Ia menilai blokade tersebut lebih efektif daripada mengebom Iran. Kepada Axios, Trump mengatakan blokade itu membuat Iran tercekik dan akan berdampak lebih buruk bagi mereka. Langkah AS tersebut berpotensi memperpanjang gangguan pasokan energi global dan menjaga harga tetap tinggi dalam jangka menengah. Di sisi lain, Iran memberikan sinyal akan merespons jika tekanan tersebut berlanjut, memperkuat ketidakpastian di pasar.
Respons Iran: Ancaman dan Klaim Kendali atas Selat Hormuz
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan tertulis yang disiarkan televisi nasional, mengatakan Iran memegang kendali atas krisis di Selat Hormuz. "Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer dan agresi terbesar oleh para perundung di kawasan ini, dan kekalahan memalukan Amerika Serikat, babak baru sedang berlangsung di Teluk Persia dan Selat Hormuz," kata Mojtaba. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menambahkan bahwa blokade AS atas pelabuhan Iran akan menjadi gangguan bagi stabilitas di Teluk Persia. Menurut dia, blokade itu bertentangan dengan hukum internasional dan pasti akan gagal. Ancaman balasan dari Iran semakin memperkuat ketidakpastian dan membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap perkembangan situasi. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia. Gangguan di wilayah ini berdampak langsung pada arus pasokan energi global, sehingga setiap eskalasi berpotensi memicu lonjakan harga lebih lanjut.
Trump Janjikan Penurunan Harga BBM Pasca-Konflik
Presiden Trump menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan akan turun drastis setelah konflik dengan Iran berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan kepada wartawan pada Kamis, 30 April waktu setempat. Namun, pernyataan ini muncul di tengah ketidakpastian mengenai kapan dan bagaimana konflik akan berakhir. Sementara itu, blokade yang telah berjalan dan ancaman balasan Iran membuat prospek jangka pendek tetap suram. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan diplomasi dan potensi eskalasi militer yang dapat mengganggu pasokan lebih lanjut. Janji penurunan harga BBM tersebut belum didukung oleh langkah konkret, dan analis memperingatkan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat menunda realisasi penurunan harga.
Dampak Global dan Prospek ke Depan
Lonjakan harga minyak ini berpotensi memicu inflasi global dan memperlambat pemulihan ekonomi di berbagai negara. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, akan merasakan tekanan dari kenaikan harga energi yang dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan di Selat Hormuz serta setiap sinyal dari AS dan Iran mengenai kemungkinan de-eskalasi. Jika blokade berlanjut dan negosiasi tetap buntu, harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka menengah. Ketidakpastian yang tinggi membuat investor cenderung berhati-hati, sementara kontrak berjangka yang bergeser ke bulan berikutnya menambah dinamika teknis yang mempengaruhi pergerakan harga. Situasi ini menuntut kewaspadaan dari semua pihak yang bergantung pada pasokan energi global.
Ringkasan
- Harga minyak Brent sempat mencapai 126,41 dolar AS per barel, tertinggi dalam empat tahun, sebelum terkoreksi ke 116 dolar AS.
- Blokade AS di Selat Hormuz telah menahan 41 tanker Iran berisi 69 juta barel minyak senilai lebih dari 6 miliar dolar AS.
- Presiden Trump menyatakan blokade dapat berlangsung berbulan-bulan dan lebih efektif daripada serangan militer.
- Iran mengklaim kendali atas Selat Hormuz dan mengancam akan merespons blokade yang dianggap melanggar hukum internasional.
- Janji Trump bahwa harga BBM akan turun drastis setelah konflik berakhir belum didukung langkah konkret.
- Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memperpanjang kenaikan harga minyak dan memicu inflasi global.

:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/30/71c053ac4f8d77024ab6183ae0b91b80-TOPSHOT_IRAQ_IRAN_US_ISRAEL_WAR_137864359.jpg)
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/24/3356d2d115392eeddf82207ed4005ebe-cropped_image.jpg)
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/30/2d3c121ad3188d7947dfc1699f7c822a-IRAN_US_ISRAEL_WAR_137834698.jpg)
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/30/1577e7c3bb332f8503428cb88af15970-US_ENERGY_OIL_137870343.jpg)

4.500 Buruh dari Purwakarta Berangkat ke Jakarta untuk May Day, 20 Orang Dilarikan ke RS

Bulan Purnama Bunga 1 Mei 2026: Micromoon atau Tidak? Ada Perbedaan Definisi

Menteri PU Dody Hanggodo lantik tujuh pejabat eselon I, termasuk mantan jenderal TNI sebagai Dirjen SDA
