Monde

Pejabat Israel Serukan Umat Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa pada Hari Nakba

Seruan ini bertepatan dengan peringatan pendudukan Israel atas Yerusalem Timur dan pengusiran warga Palestina, memicu kekhawatiran provokasi.

4 menit
Pejabat Israel Serukan Umat Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa pada Hari Nakba
Seruan ini bertepatan dengan peringatan pendudukan Israel atas Yerusalem Timur dan pengusiran warga Palestina, memicu keCredit · detikNews

Fakta-fakta

  • 13 pejabat Israel, termasuk tiga menteri, menyerukan umat Yahudi menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa.
  • Seruan tersebut dijadwalkan pada Jumat, 15 Mei, bertepatan dengan Hari Yerusalem dan Nakba.
  • Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967.
  • Masjid Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga bagi umat Muslim dan situs suci bagi umat Yahudi.
  • Sejak 2003, polisi Israel mengizinkan kunjungan Yahudi ke kompleks tersebut kecuali Jumat dan Sabtu.
  • Palestina memandang kunjungan Yahudi sebagai provokasi dan upaya mengubah status quo.
  • Peringatan Nakba menandai pengusiran paksa ratusan ribu warga Palestina pada 15 Mei 1948.

Seruan Kontroversial di Tengah Peringatan Sensitif

Belasan pejabat Israel, termasuk tiga menteri dalam kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyerukan umat Yahudi untuk secara massal mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa pada Jumat, 15 Mei. Tanggal ini memiliki makna ganda yang sangat sensitif: peringatan pendudukan Israel atas Yerusalem Timur sejak 1967, dan Hari Nakba bagi Palestina yang merujuk pada pengusiran paksa ratusan ribu warga Palestina dari tanah mereka pada 15 Mei 1948. Seruan ini, yang dilaporkan oleh media Israel seperti Army Radio dan Anadolu Agency, menambah ketegangan di kawasan yang telah lama bergejolak. Masjid Al-Aqsa, situs tersuci ketiga bagi umat Muslim, juga merupakan situs suci bagi umat Yahudi yang menyebutnya sebagai Temple Mount atau Bukit Bait Suci. Kompleks ini diklaim sebagai lokasi dua kuil Yahudi kuno. Bagi warga Palestina, penyerbuan umat Yahudi ke kompleks suci tersebut dipandang sebagai tindakan yang sangat provokatif. Mereka menilai tindakan semacam itu melanggar kesucian situs dan merupakan upaya untuk mengubah status quo keagamaan yang ada. Kekhawatiran ini diperparah oleh tuduhan Palestina bahwa Israel selama beberapa dekade telah meningkatkan upaya untuk men-Yahudi-kan Yerusalem Timur dan menghapus identitas Arab serta Islamnya.

Latar Belakang Sejarah dan Status Quo

Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967 dalam perang yang mengubah peta geopolitik Timur Tengah. Sejak tahun 1980, Israel menganeksasi kota tersebut, sebuah langkah yang tidak diakui oleh resolusi internasional. Palestina sendiri memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara mereka di masa depan, berdasarkan konsensus internasional. Sejak tahun 2003, Kepolisian Israel telah mengizinkan umat Yahudi untuk memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa setiap hari, kecuali pada hari Jumat dan Sabtu. Namun, umat Yahudi dilarang beribadah di kawasan tersebut, sebuah aturan yang berusaha menjaga keseimbangan yang rapuh. Di sisi lain, Rabi-rabi Yahudi secara tradisional melarang kunjungan ke Temple Mount karena menganggap situs tersebut terlalu suci untuk diinjak. Namun, seruan pejabat Israel ini tampaknya mengabaikan larangan tersebut dan mendorong kunjungan massal.

Peran Pejabat dan Potensi Penolakan

Sebanyak 13 anggota Knesset, atau parlemen Israel, disebut-sebut berada di balik seruan ini. Beberapa di antaranya adalah menteri dalam kabinet Netanyahu, termasuk Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir. Rekan-rekan Ben Gvir mengindikasikan bahwa keputusan akhir mengenai pembukaan kompleks untuk kunjungan Yahudi berada di tangan Perdana Menteri Netanyahu. Namun, laporan media lokal Israel juga mengutip kemungkinan bahwa polisi Israel akan menolak permintaan tersebut, mengingat sensitivitas situasi dan potensi eskalasi konflik. Keputusan ini akan sangat memengaruhi respons dari pihak Palestina dan komunitas internasional. Seruan ini muncul di tengah peringatan Hari Yerusalem, yang dirayakan Israel setiap tahun untuk menandai "reunifikasi" kota tersebut menurut kalender Ibrani. Perayaan ini sering kali diwarnai ketegangan dengan warga Palestina yang melihatnya sebagai simbol pendudukan.

Makna Ganda 15 Mei: Hari Yerusalem dan Nakba

Tanggal 15 Mei adalah hari yang sarat makna bagi kedua belah pihak. Bagi Israel, ini adalah perayaan "Hari Yerusalem" dan "penyatuan kembali" kota tersebut, yang mereka peringati setiap tahun berdasarkan kalender Ibrani. Tanggal ini menandai selesainya pendudukan Yerusalem Timur pada tahun 1967. Namun, bagi Palestina, 15 Mei adalah hari peringatan "Nakba", yang berarti bencana. Ini adalah hari ketika ratusan ribu warga Palestina terpaksa meninggalkan tanah mereka, rumah mereka, dan desa-desa mereka saat negara Israel didirikan di atas reruntuhan pada tahun 1948. Menjadikan tanggal ini sebagai momen untuk menyerukan kunjungan massal ke Al-Aqsa, yang merupakan situs suci bagi kedua agama, secara inheren bersifat provokatif dan berpotensi memicu bentrokan yang lebih luas.

Implikasi dan Kekhawatiran Internasional

Tindakan semacam ini dapat dengan cepat meningkat menjadi konflik yang lebih luas, mengingat sejarah panjang ketegangan di Yerusalem. Kompleks Masjid Al-Aqsa sendiri telah menjadi titik nyala dalam berbagai konflik sebelumnya. Pihak Palestina telah berulang kali mengeluhkan upaya Israel untuk mengubah demografi dan karakter Yerusalem Timur. Mereka melihat setiap langkah yang mengancam status quo sebagai ancaman langsung terhadap aspirasi nasional mereka. Komunitas internasional, yang sebagian besar tidak mengakui aneksasi Israel atas Yerusalem Timur, akan memantau situasi dengan cermat. Setiap eskalasi dapat menarik perhatian global dan memicu seruan untuk menahan diri dari berbagai negara.

Ringkasan

  • Pejabat Israel menyerukan umat Yahudi untuk menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa pada 15 Mei.
  • Tanggal 15 Mei bertepatan dengan Hari Yerusalem bagi Israel dan Hari Nakba bagi Palestina.
  • Masjid Al-Aqsa adalah situs suci ketiga bagi Muslim dan situs penting bagi Yahudi.
  • Seruan ini dipandang oleh Palestina sebagai provokasi dan upaya mengubah status quo.
  • Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967, yang tidak diakui secara internasional.
  • Potensi bentrokan dan eskalasi konflik sangat tinggi mengingat sensitivitas situs dan tanggal tersebut.
Galerie
Pejabat Israel Serukan Umat Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa pada Hari Nakba — image 1Pejabat Israel Serukan Umat Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa pada Hari Nakba — image 2Pejabat Israel Serukan Umat Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa pada Hari Nakba — image 3Pejabat Israel Serukan Umat Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa pada Hari Nakba — image 4Pejabat Israel Serukan Umat Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa pada Hari Nakba — image 5Pejabat Israel Serukan Umat Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa pada Hari Nakba — image 6
Selengkapnya