Cho Sang-kyung Ubah Hanbok Jadi Pernyataan Mode dalam 'Perfect Crown' Episode 7
Perancang kostum ternama memadukan tradisi dan modernitas, menghadirkan cheollik Pangeran I-an sebagai simbol pemberontakan di dunia alternatif kerajaan Korea.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5553471/original/004388900_1775974870-perfect.jpg)
INDONESIA —
Fakta-fakta
- Drama 'Perfect Crown' berlatar dunia alternatif Korea Selatan yang menganut sistem kerajaan.
- Perancang kostum Cho Sang-kyung telah berkarya selama lebih dari dua dekade, termasuk untuk 'Oldboy' (2003), 'The Handmaiden' (2016), dan 'Squid Game' (2021–2025).
- Pangeran Agung I-an (Byeon Woo-seok) tampil perdana dalam cheollik, jubah militer tradisional yang biasanya dikenakan sebagai pakaian dalam.
- Cho menyatakan pemakaian cheollik ke jamuan adalah pilihan disengaja untuk menunjukkan karakter yang mengancam dan memberontak.
- Warna teal pada selempang upacara I-an dipilih dengan hati-hati agar tidak terlalu biru atau merah, menciptakan efek yang membuat aktor bersinar.
- Ibu suri dalam drama mengenakan magoja (jaket luar) tanpa jeogori, cocok untuk musim semi atau panas.
- Cho menggunakan palet obangsaek (lima warna utama) dan oganseak (warna sekunder) untuk keluarga kerajaan, dengan sentuhan modern pada merah tua dan giok.
Langkah Pertama yang Mengguncang Istana
Ketika Pangeran Agung I-an melangkah ke jamuan kerajaan dalam 'Perfect Crown' episode 7, ia tidak mengenakan jubah resmi melainkan cheollik—jubah militer yang secara tradisional hanya dipakai sebagai pakaian dalam. Pilihan busana ini bukan sekadar gaya; perancang kostum Cho Sang-kyung sengaja merancangnya sebagai pernyataan. Cho menjelaskan bahwa secara tradisional, cheollik sering dipakai di bawah jubah resmi, sehingga memakainya ke jamuan menunjukkan ketidaksesuaian berpakaian. 'Ini pilihan yang disengaja—sedikit mengancam, sedikit memberontak. Saya ingin langkah pertama itu menunjukkan sejauh mana karakter ini berani melangkah. Ini tipe kemunculan yang bisa jadi berita utama keesokan harinya,' kata Cho dalam wawancara. Penampilan perdana I-an ini menjadi momen kunci yang menegaskan karakter pemberontaknya di dunia alternatif Korea Selatan yang menganut sistem kerajaan.
Cho Sang-kyung: Pencerita Visual di Balik Hanbok Modern
Cho Sang-kyung bukan sekadar perancang kostum; ia adalah pencerita visual yang telah membentuk tampilan konten Korea selama lebih dari dua dekade. Dari estetika kelam 'Oldboy' (2003) dan keanggunan menghantui 'The Handmaiden' (2016) hingga fenomena global 'Squid Game' (2021–2025), Cho dikenal karena riset mendalam dan reinterpretasi berani. Dalam 'Perfect Crown', ia melampaui reproduksi historis dengan menampilkan hanbok sebagai pernyataan mode yang fleksibel dan berkelas tinggi. Menurut laporan dari Korea Times pada Jumat (1/5/2026), Cho memadukan siluet tradisional dengan sentuhan kontemporer secara mulus, mengajak audiens global melihat hanbok bukan hanya sebagai kostum, melainkan karya seni dengan keanggunan abadi. Kemampuannya menghormati tradisi sekaligus melampaui batasnya menjadi ciri khas yang membuat setiap karyanya dinantikan.
Palet Warna yang Teliti: Teal, Merah Tua, dan Giok
Cho Sang-kyung mencari warna yang cocok dengan para aktor, tetap mengacu pada obangsaek (lima warna utama: putih, hitam, biru, merah, kuning) dan oganseak (warna sekunder seperti ungu, teal, oker, hijau, oranye kecokelatan). Untuk keluarga kerajaan, ia menggunakan warna tradisional seperti merah tua dan giok, tetapi dengan sentuhan berbeda. 'Warna yang paling dipilih dengan hati-hati adalah teal pada selempang upacara besar I-an di poster promosi. Jika terlalu biru, akan terlihat kaku di layar; jika terlalu merah, akan mengganggu fokus pada aktor. Warna ini membuat aktor benar-benar bersinar. Mungkin ada yang melihatnya sebagai Tiffany blue, tetapi ini sebenarnya warna yang sangat Korea,' jelas Cho. Pemilihan warna yang presisi ini menunjukkan dedikasi Cho terhadap detail dan pemahaman mendalam tentang bagaimana warna berinteraksi dengan pencahayaan dan kamera.
Inovasi pada Busana Ibu Suri: Magoja Tanpa Jeogori
Dalam drama, ibu suri mengenakan magoja (jaket luar) yang hanya disampirkan di atas rok, tanpa memakai jeogori (atasan) tradisional. Cho Sang-kyung menerangkan bahwa pilihan ini cocok untuk musim semi atau panas, memberikan kenyamanan sekaligus tampilan yang anggun. Eksperimen dengan renda dan payet juga diterapkan untuk memberikan sentuhan modern pada hanbok. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya estetika visual tetapi juga menunjukkan bagaimana pakaian tradisional dapat diadaptasi untuk berbagai iklim dan suasana. Inovasi semacam ini mencerminkan visi Cho untuk membuat hanbok relevan bagi penonton global tanpa kehilangan akar budayanya.
Dampak Budaya: Hanbok sebagai Ikon Mode Global
Melalui 'Perfect Crown', Cho Sang-kyung tidak hanya menghidupkan karakter tetapi juga memperkenalkan hanbok kepada audiens internasional sebagai pernyataan mode berkelas tinggi. Dengan latar dunia alternatif kerajaan Korea, drama ini menjadi wadah untuk mengeksplorasi identitas budaya melalui busana. Pemakaian cheollik yang kontroversial dan palet warna yang kaya telah memicu diskusi di media sosial dan forum penggemar, memperkuat posisi drama ini sebagai fenomena budaya. Cho berhasil menjembatani tradisi dan modernitas, membuktikan bahwa hanbok bisa menjadi simbol pemberontakan sekaligus keanggunan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kostum bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen naratif yang kuat yang dapat membentuk persepsi penonton terhadap karakter dan cerita.
Apa Selanjutnya untuk 'Perfect Crown'?
Dengan episode 7 yang menampilkan momen ikonik Pangeran I-an, penonton semakin penasaran bagaimana perkembangan karakter dan konflik selanjutnya. Cho Sang-kyung telah menetapkan standar tinggi untuk desain kostum, dan setiap penampilan baru pasti akan dinanti. Pertanyaan tentang bagaimana elemen tradisional lainnya akan diinterpretasikan secara modern masih terbuka. Apakah akan ada lebih banyak inovasi pada busana kerajaan? Atau mungkin karakter lain akan mendapatkan momen mode yang sama beraninya? Yang jelas, 'Perfect Crown' telah membuktikan bahwa hanbok bukan sekadar pakaian masa lalu, melainkan kanvas untuk ekspresi artistik yang tak lekang oleh waktu.
Ringkasan
- Cho Sang-kyung menggunakan cheollik sebagai simbol pemberontakan Pangeran I-an, menyimpang dari tradisi pemakaiannya sebagai pakaian dalam.
- Warna teal pada selempang I-an dipilih secara khusus untuk menonjolkan aktor tanpa mengganggu fokus.
- Ibu suri mengenakan magoja tanpa jeogori, menunjukkan adaptasi hanbok untuk kenyamanan musim semi/panas.
- Cho memadukan palet obangsaek dan oganseak dengan sentuhan modern untuk keluarga kerajaan.
- Hanbok dalam 'Perfect Crown' diposisikan sebagai pernyataan mode global, bukan sekadar kostum sejarah.
- Desain kostum Cho Sang-kyung telah menjadi elemen naratif kunci yang memperkuat karakter dan alur cerita.


Cinema XXI Raup Pendapatan Rp1,1 Triliun di Q1 2026, Berbalik Untung Berkat Film Lokal

Cade Cunningham Cetak Rekor Playoff Pistons, Detroit Bertahan Hidup Melawan Magic
Bupati Bantul Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Polres Hadir Jaga Ekosistem Pendidikan
