Presiden Taiwan Lai Ching-te Tiba di Eswatini di Tengah Tekanan China
Pemimpin Taiwan itu mendarat di satu-satunya sekutu diplomatiknya di Afrika setelah beberapa negara mencabut izin terbang akibat tekanan Beijing.

INDONESIA —
Fakta-fakta
- Presiden Taiwan Lai Ching-te tiba di Eswatini pada 26 April 2025.
- Eswatini adalah satu-satunya negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan.
- Izin terbang Lai dicabut oleh Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar karena tekanan China.
- Kunjungan ini awalnya dijadwalkan pada 22 April tetapi ditunda.
- China menyebut kunjungan Lai sebagai 'aksi konyol' dan membandingkannya dengan 'tikus'.
- Eswatini tidak memiliki akses bebas tarif ke pasar China karena hubungannya dengan Taiwan.
- Pada 2023, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen juga mengunjungi Eswatini.
- Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut Taiwan sebagai 'risiko terbesar' dalam hubungan AS-China.
Kunjungan Mendadak di Tengah Tekanan Diplomatik
Presiden Taiwan Lai Ching-te tiba di Eswatini pada Sabtu, 26 April 2025, dalam kunjungan yang dirahasiakan hingga ia mendarat. Langkah ini diambil setelah beberapa negara mencabut izin terbang untuk pesawat kepresidenan, yang menurut Taiwan merupakan hasil tekanan ekonomi dari China. Dalam unggahan di media sosial, Lai menyatakan bahwa Taiwan 'tidak akan pernah gentar oleh tekanan eksternal'. Ia menegaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat persahabatan yang sudah lama terjalin antara Taiwan dan Eswatini.
Rintangan Penerbangan dan Tuduhan Paksaan China
Kunjungan Lai awalnya dijadwalkan pada 22 April, tetapi harus ditunda setelah Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar secara mendadak mencabut izin terbang. Pejabat Taiwan menuduh China melakukan 'tekanan kuat, termasuk paksaan ekonomi' untuk memblokir perjalanan tersebut. Kementerian Luar Negeri Taiwan membela langkah kerahasiaan ini sebagai tindakan pencegahan yang memiliki banyak preseden internasional. Mereka menegaskan bahwa kunjungan dilakukan sesuai dengan hukum internasional dan norma diplomatik.
Tanggapan Keras dari Beijing
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengecam kunjungan Lai sebagai 'aksi konyol di depan dunia' dan menyebutnya 'diselundupkan' keluar dari Taiwan. China juga menyamakan Lai dengan 'tikus' yang terjebak. Pernyataan resmi China menegaskan bahwa 'tidak ada yang akan mengubah fakta bahwa Taiwan adalah bagian dari China'. Beijing mendesak Eswatini dan negara lain untuk 'berhenti menjadi alat bagi separatis kemerdekaan Taiwan'.
Eswatini: Satu-satunya Sekutu Afrika Taiwan
Eswatini, negara kecil di Afrika bagian selatan dengan populasi sekitar 1,2 juta jiwa, adalah satu-satunya negara Afrika yang masih menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Akibatnya, Eswatini menjadi satu-satunya negara Afrika yang tidak mendapatkan akses bebas tarif ke pasar China. Kunjungan presiden Taiwan sebelumnya dilakukan oleh Tsai Ing-wen pada tahun 2023. Lai menyatakan bahwa kunjungan ini akan memperdalam kerja sama di bidang ekonomi, pertanian, budaya, dan pendidikan.
Ketegangan Global dan Peringatan Wang Yi
Kunjungan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan Taiwan. Pada Jumat, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam panggilan telepon bahwa Taiwan adalah 'risiko terbesar' dalam hubungan bilateral. China belum mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menguasai Taiwan dan terus berupaya menghalangi negara lain menjalin hubungan diplomatik dengan Taipei. Taiwan, yang merupakan demokrasi yang mengatur dirinya sendiri, dianggap oleh China sebagai bagian dari wilayahnya.
Dampak dan Prospek ke Depan
Kunjungan Lai ke Eswatini menunjukkan tekad Taiwan untuk tetap terlibat dengan komunitas internasional meskipun ada tekanan dari China. Namun, insiden pencabutan izin terbang menyoroti kerentanan Taiwan dalam diplomasi udara. Ke depannya, Taiwan kemungkinan akan terus mencari cara inovatif untuk mempertahankan hubungan diplomatik, sementara China akan meningkatkan tekanan untuk mengisolasi Taiwan secara internasional. Eswatini tetap menjadi simbol perlawanan terhadap hegemoni China di Afrika.
Ringkasan
- Presiden Taiwan Lai Ching-te berhasil mengunjungi Eswatini meskipun tiga negara mencabut izin terbang karena tekanan China.
- China mengecam kunjungan tersebut dan menyebutnya sebagai aksi konyol, serta menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian dari China.
- Eswatini adalah satu-satunya negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan dan tidak memiliki akses bebas tarif ke China.
- Kunjungan ini menunjukkan strategi Taiwan untuk tetap terlibat secara global di tengah tekanan Beijing.
- Ketegangan antara China dan Taiwan semakin meningkat, dengan China menyebut Taiwan sebagai risiko terbesar dalam hubungan AS-China.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5516734/original/079458100_1772344194-638296968_18568978534045448_2631506670717563765_n.webp)
Pelatih Indonesia Rudy Eka Priyambada Bawa Al Nassr Putri Juara Saudi Women's Premier League 2025/2026
/data/photo/2026/04/30/69f3604dd06d5.jpeg)
Persija Jakarta Hadapi Persijap di Pekan ke-31, Perburuan Gelar Super League Makin Ketat
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/05/01/2702fce69a52783a28ee1275221a25d0-20260502_Opini_Digital_1.jpg)
Rupiah Dekati Rp17.400, Erosi Kredibilitas Fiskal Jadi Beban Lebih Berat dari Bayangan 1998
