Culture

Cinema XXI Catat Pendapatan Rp1,1 Triliun di Q1 2026, EBITDA Melonjak 81,2%

Pemulihan bisnis bioskop terbesar di Indonesia didorong oleh film lokal yang memecahkan rekor selama libur Lebaran.

3 menit
Cinema XXI Catat Pendapatan Rp1,1 Triliun di Q1 2026, EBITDA Melonjak 81,2%
Pemulihan bisnis bioskop terbesar di Indonesia didorong oleh film lokal yang memecahkan rekor selama libur Lebaran.Credit · Bareksa.com

Fakta-fakta

  • Pendapatan Q1 2026 Rp1,1 triliun, naik 18,2% year-on-year dari Rp929,2 miliar.
  • EBITDA Rp226,9 miliar, melonjak 81,2% dari Rp125,2 miliar pada Q1 2025.
  • Laba bersih konsolidasi Rp533 juta, berbalik dari rugi Rp66,7 miliar pada Q1 2025.
  • Dividen final Rp7 per saham dibayarkan 28 April 2026; total dividen tahun buku 2025 Rp12 per saham.
  • Tujuh film nasional masing-masing raih lebih dari satu juta penonton di Q1 2026, naik dari tiga film tahun lalu.
  • Total aset Rp6,72 triliun, kas Rp1,75 triliun, ekuitas Rp4,34 triliun per 31 Maret 2026.
  • Distribusi saham tresuri rasio 50:1 pada 28 April 2026, sebanyak 1,63 miliar saham dibagikan.

Pendapatan dan EBITDA Tumbuh Dua Digit

PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), operator jaringan bioskop terbesar di Indonesia di bawah merek Cinema XXI, membukukan total pendapatan Rp1,1 triliun pada Kuartal I 2026. Angka ini tumbuh 18,2% secara tahunan dibandingkan Rp929,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA tercatat Rp226,9 miliar, melonjak 81,2% dari Rp125,2 miliar pada Q1 2025. Pertumbuhan ini mencerminkan efisiensi operasional yang signifikan seiring ekspansi bisnis, menurut keterangan pers perusahaan pada 30 April 2026. Laba bersih konsolidasi Q1 2026 tercatat Rp533 juta, berbalik dari rugi Rp66,7 miliar pada Q1 2025. Meskipun tipis, angka ini menandai titik balik profitabilitas setelah beban penyusutan dan keuangan yang besar.

Tiket Bioskop dan F&B Jadi Motor Utama

Pendapatan tiket bioskop, kontributor terbesar dengan porsi 60,6% dari total revenue, tumbuh 14,3% menjadi Rp665,3 miliar. Segmen makanan dan minuman (F&B) yang menyumbang 32,6% revenue ikut tumbuh 15,9% menjadi Rp357,6 miliar, dengan spend per head (SPH) yang terjaga. Sisanya berasal dari iklan, platform digital, dan pendapatan lainnya. Arus kas dari aktivitas operasi meningkat signifikan menjadi Rp106,6 miliar dari Rp28,1 miliar pada Q1 2025, menjadi indikator kualitas pendapatan yang membaik.

Film Lokal Pendorong Lonjakan Penonton

Kinerja Q1 2026 turut ditopang oleh kuatnya momentum film lokal, khususnya pada periode libur Lebaran. Tujuh judul film nasional masing-masing berhasil meraih lebih dari satu juta penonton, meningkat drastis dibandingkan hanya tiga judul pada Q1 2025. Direktur Utama Cinema XXI Suryo Suherman menyebut antusiasme penonton terhadap karya sineas Indonesia sebagai energi pendorong kinerja operasional perseroan. Film-film lokal menjadi daya tarik utama yang mendorong okupansi bioskop selama musim liburan.

Posisi Keuangan Solid dengan Kas Rp1,75 Triliun

Per 31 Maret 2026, total aset perseroan mencapai Rp6,72 triliun, dengan kas dan setara kas Rp1,75 triliun serta total ekuitas Rp4,34 triliun. Posisi keuangan yang solid ini memberikan ruang bagi ekspansi dan investasi lebih lanjut. Perusahaan telah membayarkan dividen final Rp7 per saham pada 28 April 2026, sehingga total dividen untuk tahun buku 2025 menjadi Rp12 per saham, termasuk interim Rp5 per saham yang dibayarkan pada 28 November 2025. Selain itu, distribusi saham tresuri dengan rasio 50:1 dilakukan pada tanggal yang sama, di mana setiap pemegang 50 saham berhak menerima 1 saham tresuri secara cuma-cuma, total 1.632.939.689 saham dibagikan.

Ekspansi Jaringan Bioskop Terus Berlanjut

Hingga 31 Maret 2026, Cinema XXI mengoperasikan 268 bioskop dengan 1.391 layar di seluruh Indonesia, menjadikannya jaringan bioskop terbesar di tanah air. Merek yang dioperasikan meliputi Cinema XXI, Cinema 21, dan The Premiere. Dengan fundamental bisnis yang membaik dan arus kas operasi yang kuat, perseroan diposisikan untuk melanjutkan ekspansi. Pertumbuhan EBITDA yang melesat 81,2% menunjukkan bahwa efisiensi operasional berjalan seiring dengan peningkatan skala bisnis.

Prospek: Momentum Film Lokal dan Pemulihan Industri

Keberhasilan tujuh film nasional yang menembus satu juta penonton dalam satu kuartal menjadi sinyal positif bagi industri perfilman Indonesia. Jika tren ini berlanjut, pendapatan tiket dan F&B diperkirakan akan terus tumbuh. Namun, laba bersih yang masih tipis mengindikasikan bahwa beban penyusutan dan keuangan tetap menjadi tantangan. Investor akan mencermati kemampuan perseroan untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan sambil mengelola biaya. Dengan posisi kas yang kuat dan dividen yang telah dibayarkan, Cinema XXI menunjukkan kepercayaan diri terhadap prospek jangka panjang bisnis bioskop di Indonesia.

Ringkasan

  • Pendapatan Cinema XXI tumbuh 18,2% yoy menjadi Rp1,1 triliun di Q1 2026, didorong tiket dan F&B.
  • EBITDA melonjak 81,2% menjadi Rp226,9 miliar, menandai efisiensi operasional yang signifikan.
  • Laba bersih berbalik positif Rp533 juta setelah rugi Rp66,7 miliar pada Q1 2025.
  • Tujuh film lokal meraup lebih dari satu juta penonton, menjadi katalis utama kinerja.
  • Dividen final Rp7/saham dan distribusi saham tresuri 50:1 telah dilaksanakan 28 April 2026.
  • Posisi keuangan solid dengan kas Rp1,75 triliun dan ekuitas Rp4,34 triliun per Maret 2026.
Selengkapnya