Said Iqbal Peringatkan Gelombang PHK di Tiga Sektor Akibat Perang Timur Tengah
Presiden KSPI menyebut laporan dari serikat pekerja menunjukkan perusahaan tekstil, plastik, dan semen mulai berdiskusi soal pengurangan tenaga kerja dalam tiga bulan ke depan.

INDONESIA —
Fakta-fakta
- Said Iqbal, Presiden KSPI, memperingatkan potensi PHK massal dalam tiga bulan ke depan.
- Ancaman PHK paling terasa di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, dan polyester.
- Sektor kedua yang terancam adalah industri plastik akibat lonjakan harga bahan baku impor dan pelemahan rupiah.
- Harga plastik naik hingga 50%, menurunkan daya beli masyarakat dan berpotensi memicu PHK.
- Dampak lanjutan bisa merembet ke industri elektronik dan otomotif yang menggunakan komponen plastik.
- Sektor semen menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan (oversupply) dan permintaan melemah karena perang.
- Belum ada respons resmi dari pemerintah terhadap ancaman PHK ini, menurut Said Iqbal.
Peringatan Dini dari Puncak Serikat Buruh
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengingatkan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam tiga bulan ke depan. Ancaman ini, menurutnya, berasal dari laporan serikat pekerja di beberapa perusahaan yang sudah mulai mengajak pekerja berdiskusi terkait pengurangan tenaga kerja. Penyebab utamanya adalah dampak perang di Timur Tengah yang memicu gejolak ekonomi global. Said Iqbal menyampaikan hal ini dalam konferensi pers virtual pada Senin, 4 Mei 2026. Ia menekankan bahwa informasi tersebut bukan sekadar spekulasi, melainkan laporan langsung dari anggota KSPI di lapangan. Perusahaan-perusahaan di sektor tekstil dan produk turunannya, seperti benang, kain, dan polyester, menjadi yang paling terdepan dalam ancaman PHK.
Sektor Tekstil Paling Terdampak
Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) disebut sebagai sektor yang paling terancam mengalami PHK massal. Said Iqbal menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan di sektor ini sudah mulai berdiskusi dengan pekerja mengenai potensi pengurangan tenaga kerja. Kondisi ini diperparah oleh perang di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok dan permintaan global. "Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya," katanya. Ia menambahkan bahwa industri ini sangat bergantung pada stabilitas kawasan Timur Tengah.
Industri Plastik Tertekan Lonjakan Biaya Bahan Baku
Sektor kedua yang terancam melakukan PHK adalah industri plastik. Lonjakan harga bahan baku impor, terutama polimer dan petrokimia, menjadi pemicu utama. Said Iqbal menjelaskan bahwa bahan baku plastik sebagian besar diimpor dengan mata uang dolar AS, sementara produk dijual di pasar domestik menggunakan rupiah. Pelemahan rupiah terhadap dolar membuat biaya produksi melonjak drastis. "Begitu diproduksi, impor kan berarti beli barangnya pake dolar, jualnya di pasar domestik pakai rupiah, sedangkan harga rupiah anjlok terhadap dolar, ya buntung lah, makanya harga plastik naik," jelasnya. Akibatnya, harga plastik naik hingga 50%, menurunkan daya beli masyarakat. "Ada ibu-ibu cerita yang jualan di pasar biasa bungkus pake plastik, sekarang pake daun. Nah itu kan plastik turun. Itu kan ancaman PHK di industri plastik," sambungnya.
Efek Domino ke Elektronik dan Otomotif
Dampak kenaikan harga plastik tidak berhenti di sektor itu saja. Said Iqbal memperingatkan bahwa industri elektronik dan otomotif yang banyak menggunakan komponen berbahan plastik juga akan terkena imbasnya. Perusahaan-perusahaan di sektor tersebut sudah mulai memberi sinyal kepada serikat pekerja tentang potensi PHK dalam tiga bulan ke depan. "Begitu pula industri elektronik bisa kena. Mudah-mudahan perang bisa kembali damai, selesai sehingga bisa turun harga plastik. Tapi nggak semudah itu kata perusahaan-perusahaan, dalam 3 bulan kepada serikat pekerja, di elektronik kan pakai plastik frame nya. Di otomotif spakbor, beberapa komponen lain juga pake plastik," bebernya. Ia berharap ketegangan di Timur Tengah antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran segera mereda.
Sektor Semen: Oversupply dan Permintaan Melemah
Selain tekstil dan plastik, sektor semen juga menghadapi tekanan berat. Said Iqbal menjelaskan bahwa industri semen mengalami kelebihan pasokan (oversupply) di tengah permintaan yang melemah akibat perang. Masuknya pabrik-pabrik baru justru memperketat persaingan dan mendorong efisiensi tenaga kerja. "Apalagi sekarang dalam suasana perang. Permintaan terhadap semen kan berkurang. Udah mah oversupply, pabrik baru bikin lagi kemudian izinnya diberikan dan mulai operasional, permintaan semen akibat semen turun. Ya otomatis terjadi efisiensi buruh dan pekerja ya PHK," sebutnya. Kondisi ini menambah daftar panjang sektor yang terancam melakukan PHK massal.
Pemerintah Belum Beri Respons
Hingga saat ini, Said Iqbal menyatakan bahwa belum ada respons resmi dari pemerintah terkait ancaman PHK massal ini. Ia juga menyebut belum ada rencana diskusi dengan pemerintah untuk membahas langkah antisipasi. Ketiadaan respons ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan buruh yang merasa tidak mendapat perlindungan di tengah krisis. Sementara itu, di sisi lain, perayaan May Day 2026 yang digelar di Monas pada hari yang sama justru menunjukkan kebersamaan antara serikat buruh dan pemerintah. Ketua Panitia May Day 2026 sekaligus Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea menyebut perayaan yang dihadiri sekitar 250 ribu buruh bersama Presiden Prabowo Subianto sebagai momentum bersejarah. Namun, Said Iqbal dan KSPI memilih untuk tetap fokus pada ancaman PHK yang nyata di depan mata.
May Day 2026: Persatuan di Tengah Ancaman
Perayaan May Day 2026 di Monas dihadiri oleh sekitar 250 ribu buruh dari berbagai wilayah Indonesia, bersama Presiden Prabowo Subianto. Andi Gani Nena Wea menyebut perayaan ini sebagai bukti kuatnya hubungan komunikasi antara serikat buruh dan pemerintah. "Ini sejarah persatuan dan kesatuan buruh Indonesia. Mudah-mudahan semangat ini terus terjaga hingga May Day 2027," katanya. Namun, di saat yang sama, sebagian elemen buruh tetap melakukan aksi demonstrasi di kawasan DPR RI. Andi Gani menghormati perbedaan cara menyampaikan aspirasi tersebut. "Kami menghormati teman-teman yang melakukan aksi di DPR. Itu hal yang biasa dalam demokrasi. Namun sebagian besar kekuatan buruh hadir di Monas dan menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Presiden," ucapnya. Perayaan ini menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan seluruh konfederasi serikat buruh bergabung bersama.
Ringkasan
- KSPI memperingatkan gelombang PHK dalam tiga bulan ke depan di sektor tekstil, plastik, dan semen akibat perang Timur Tengah dan pelemahan rupiah.
- Harga plastik naik hingga 50% karena kenaikan biaya bahan baku impor, menurunkan daya beli dan memicu ancaman PHK di sektor terkait.
- Industri elektronik dan otomotif juga berpotensi terkena dampak lanjutan dari krisis sektor plastik.
- Pemerintah belum memberikan respons resmi terhadap ancaman PHK massal ini.
- May Day 2026 di Monas dihadiri 250 ribu buruh dan Presiden Prabowo, menandai persatuan buruh meski ada aksi demonstrasi terpisah di DPR.




MPL ID Season 17 Memasuki Pekan Keenam: Persaingan Menuju Playoff Makin Ketat
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/02/21/023a549b2f264312071d7e53057365b9-cropped_image.jpg)
Tottenham di Ambang Degradasi: De Zerbi Serukan Perubahan Mentalitas Hadapi Aston Villa

Arbeloa Buka Suara soal Ancaman Guard of Honor ke Barcelona
